Kompas.com - 03/07/2015, 13:10 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Nyeri merupakan pengalaman tidak menyenangkan yang bisa membuat seseorang merasa tersiksa, menderita, dan tidak nyaman. Meski tidak semua nyeri perlu diobati, namun ada nyeri yang perlu diwaspadai.

Rasa nyeri memiliki variasi yang berbeda tiap individu walau cedera atau penyakitnya sama. "Tingkat toleransi tiap orang memang berbeda-beda, ada yang baru sakit sedikit sudah kesakitan, tapi ada juga orang yang sudah cedera masih bisa ketawa-ketawa," kata dr.Jimmy F.A Barus, spesialis saraf dalam acara media edukasi bertajuk Ketahui dan Pahami Cara Penangangan Nyeri yang Tepat yang diadakan oleh Pfizer di Jakarta (2/7/15).

Jimmy menjelaskan, persepsi nyeri individu sangat subjektif, tergantung kondisi emosi, jenis kelamin, tingkat usia, dan pengalaman emosional sebelumnya. "Pria umumnya lebih tahan sakit dibandingkan perempuan," ujarnya.

Berdasarkan lamanya, nyeri bisa dibedakan menjadi nyeri akut dan nyeri kronis atau nyeri yang sudah berlangsung lebih dari 3 bulan. "Nyeri kronis umumnya diderita wanita, misalnya saja migren, kesemutan, atau nyeri punggung. Sehingga ada dugaan nyeri ini dipengaruhi hormonal," katanya.

Nyeri sendiri termasuk dalam tanda vital adanya proses penyakit dalam tubuh. Selain nyeri, tanda vital lainnya adalah tekanan darah, frekuensi nadi dan napas, serta suhu tubuh.

Nyeri kronis seharusnya jangan diabaikan karena bisa memperburuk kualitas hidup pasien, menimbulkan gangguan tidur, kecemasan, depresi, serta ketergantungan pada obat.

"Kebiasaan minum obat pereda nyeri bisa menyebabkan toleransinya menurun sehingga yang tadinya hanya perlu minum satu tablet lama-lama perlu dua atau tiga tablet baru nyerinya reda," kata spesialis saraf dari Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya ini.

Jika rasa nyeri yang dirasakan, baik itu nyeri akut atau kronis, tidak bertambah baik gejalanya setelah mengonsumsi obat bebas 1-2 hari, sebaiknya konsultasikan ke dokter. Waspadai juga jika nyeri yang dirasakan disertai demam.

"Konsultasi untuk memastikan ada tidaknya penyakit yang lebih serius. Konsultasi dengan dokter belum tentu berobat karena penyakit nyeri pengobatannya individual, ada yang butuh obat, ada yang tidak," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.