Kompas.com - 25/08/2015, 15:11 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorBestari Kumala Dewi

Senior Research Fellow and Specialist Physician Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof David Handojo Muljono, mengatakan, Riskesdas 2007 menunjukkan, ada 7,32 persen populasi di kelompok usia 1-4 tahun yang punya antigen hepatitis B (HBsAg) positif. Artinya, ada anak balita terinfeksi hepatitis dari ibunya.

 

Dalam kajian serologi dan biomolekuler pada 943 ibu hamil di Makassar, Sulawesi Selatan, Juni-Agustus 2014, ditemukan 6,8 persen ibu hamil positif hepatitis B. Virus itu ditemukan pada tali pusat (10,93 persen) dan plasenta (21,67 persen).

 

Seumur hidup

 

Bayi yang terinfeksi virus hepatitis B dari ibunya akan hidup dengan virus itu dalam tubuhnya seumur hidup. Jika tak dikendalikan, hepatitis akan jadi kronis dan berujung pada pengerasan hati (sirosis), bahkan kanker hati. Itu akan mempersulit pengobatan dan membutuhkan biaya amat besar.

 

Hepatitis yang pada fase awal tak menimbulkan gejala spesifik itu muncul kapan saja dan merenggut nyawa dalam senyap. Banyak pasien hepatitis B baru berobat setelah terjadi sirosis.

 

Meski banyak orang terinfeksi hepatitis B dan jadi sumber penularan bagi orang lain, kesadaran warga terhadap pentingnya imunisasi bagi anaknya belum sepenuhnya terbangun. Banyak orang menyepelekan, bahkan menolak imunisasi.

 

Padahal, penularan hepatitis B dari ibu ke bayi bisa dicegah dengan imunisasi. Pemerintah juga menerapkan program nasional imunisasi hepatitis B (HB) sejak 1997. Namun, kasus hepatitis B di Indonesia tetap tinggi akibat cakupan imunisasi rendah dan tak lengkap.

 

Data Direktorat Surveilans, Imunisasi, Karantina, dan Kesehatan Matra (Simkarkesma) Kementerian Kesehatan 2014 memperlihatkan, cakupan imunisasi hepatitis B pada bayi kurang dari 7 hari 85,8 persen. Namun, imunisasi HB pada bulan pertama, kedua, dan ketiga setelah lahir kurang dari 55 persen. Cakupan imunisasi HB kombinasi pentavalen 5 antigen DPT-HB-Hib bulan pertama setelah lahir hanya 52 persen.

 

Kondisi per 22 Juli 2015 menunjukkan, cakupan imunisasi pada bayi lahir kurang dari 7 hari hanya 35 persen. Cakupan imunisasi DPT-HB-Hib bulan pertama, kedua, dan ketiga setelah lahir berturut-turut ialah 37,4 persen, 36,8 persen, dan 36,6 persen.

 

Direktur Simkarkesma Kemenkes Wiendra Waworuntu menjelaskan, banyak orangtua merasa cukup dengan imunisasi saat bayi lahir. Mereka tak kembali datang ke fasilitas kesehatan untuk melengkapi imunisasi dasar lengkap anak mereka. "Banyak orangtua tak datang ke posyandu untuk memeriksakan anaknya sehingga imunisasi dasar lengkap pada bayinya terhenti," kata Wiendra.

 

Anggota Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Hartono Gunardi, menekankan pentingnya imunisasi HB pada bayi baru lahir kurang dari 12 jam. "Imunisasi tak lebih dari 12 jam setelah lahir bisa melindungi anak dari virus hepatitis B 60-70 persen," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.