Kompas.com - 18/09/2015, 09:03 WIB
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com - Siapapun tentu senang menikmati makanan lezat. Apalagi, Indonesia kaya akan berbagai kuliner khas daerah dengan rasanya yang menggoda. Namun, sadarkah Anda bahwa dibalik kelezatan makanan tersebut ada bahaya kolesterol jahat mengintai?

Kolesterol sebenarnya memiliki peran penting dalam tubuh, ia bertugas untuk membangun dan memperbaiki dinding-dinding sel. Kolesterol masuk ke dalam darah melalui penyerapan makanan yang dikonsumsi. Ada dua jenis kolesterol, yaitu kolesterol jahat atau low-density lipoprotein (LDL) dan kolesterol baik atau  high-density lipopretein (HDL).

Terlalu banyak kolesterol jahat dalam tubuh sangat berbahaya, karena kolesterol ini akan masuk ke dalam darah, bila tersu menumpuk akan mengeras dan menyebabkan ateroskleosis, yaitu radang pada pembuluh darah manusia.


Jika tak segera diatasi, ini dapat menyumbat pembuluh darah jantung   dan menyebabkan jantung koroner. Begitupun, jika terjadi penyumbatan pembuluh darah di otak akan menyebabkan stroke.

Menurut dokter spesialis penyakit jantung dan kardiologis Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Dr.Djoko Maryono, DsPD,DsPJ,FIHA, FACC, salah satu pengobatan yang bisa dilakukan untuk menurunkan kadar kolesterol ialah dengan mengonsumsi phytosterol.

Phytosterol adalah kelompok triterpen steroid dari bahan alami tumbuh-tumbuhan yang secara struktural serta fisiologis mirip dengan kolesterol. “Strukturnya yang mirip inilah yang membuat Phytosterol memiliki kemampuan, untuk berkompetisi dengan kolesterol dalam penyerapannya di dalam usus. Sehingga, jumlah kolesterol jahat yang diserap oleh tubuh pun berkurang,” ujar Dr. Djoko saat temu media dalam acara Kebiasaan Baru Turunkan Kolesterol.

Lebih dari itu, phytosterol juga memiliki berbagai manfaat sehat lainnya untuk tubuh, diantaranya meningkatkan sistem imunitas tubuh, antikarsinogenik yang mana mampu melawan penyebab-penyebab kanker, mengurangi pembesaran prostat, dan menurunkan kadar gula darah serta menurunkan inflamasi.

“Phytosterol ini kan dari tumbuh-tumbuhan jadi memang tidak ada efek sampingnya. Bahkan, jika dikonsumsi dalam jumlah banyak sekalipun. Berbeda dengan pengobatan kimiawi yang biasanya digunakan untuk menurunkan kolesterol.  Sering kali menyebabkan myolysis, yaitu kerusakan otot. Selain itu, berkurangnya transmitter ke otak, dan libido menurun. Karena itu, sangat penting untuk selalu dimonitor oleh dokter penggunaannya,” jelas Dr. Djoko.

Selain bisa dikonsumsi dalam bentuk suplemen, phytosterol bisa didapatkan dari berbagai sumber makanan seperti jagung, flax seed, kacang kedelai, kelapa, kacang-kacangan, zaitun, termasuk juga minyak sayur.

Namun menurut peneltian terbaru, para penderita asthma dan penyakit pernapasan lainnya perlu berhati-hati mengonsumsi suplemen phytosterol. Sebab, kebanyakan suplemen phytosterol terbuat dari kedelai yang dapat memicu kambuhnya penyakit tersebut. Karena itu, ada baiknya konsultasi lebih dulu dengan dokter sebelum mengonsumsi phytosterol.

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.