Kompas.com - 18/01/2016, 09:15 WIB
EditorBestari Kumala Dewi

JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi terror yang terjadi di sekitar pusat perbelanjaan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis lalu (14/1/2016) masih menjadi sorotan pemberitaan di seluruh media masa. Bahkan, sosial media pun masih ramai membahas tragedi tersebut dari berbagai sisi, mulai dari foto-foto peristiwa hingga berbagai hashtag yang beberapa diantaranya sempat menjadi trending topic di Twitter.

Teknologi saat ini memang sangat memudahkan untuk mengakses berbagai berita dan informasi terbaru. Dalam hitungan jam, bahkan dalam hitungan menit, akan muncul berita terbaru. Apalagi, setiap orang bebas untuk posting foto, video, atau informasi apapun di sosial media.

Paparan informasi yang bertubi-tubi, tak jarang membuat kita sulit untuk “menyaring” mana informasi yang benar dan mana informasi yang palsu. Lalu, bagaimana dengan anak-anak kita yang juga bisa dengan mudahnya terpapar berita tentang terorisme, baik melalui media massa maupun sosial media?

Menurut Sani Budiantini Hermawan, S.Psi., M.Si., Direktur & Psikolog Lembaga Konsultasi Daya Insani, dalam kondisi seperti ini orangtua harus mengantisipasi munculnya trauma pada anak, yang disebabkan oleh pemberitaan yang simpang siur.

“Trauma pada anak bisa terjadi ketika berita yang muncul menimbulkan ketakutan atau kecemasan berlebih. Misalnya, melihat gambar korban tanpa sensor. Ini bisa “menghantui” anak hingga sulit tidur atau bahkan mengganggu konsentrasinya. Di sinilah peran orangtua sangat penting untuk menenangkan anak dengan memberikan penjelasan yang benar,” jelas Sani saat dihubungi KOMPAS.com.

Sani menambahkan, orangtua perlu berinisiatif untuk mengajak anak berdiskusi mengenai berita atau informasi yang didapatnya. Ini juga untuk mengantisipasi pengaruh teman atau lingkungan yang menyebarkan berita tidak benar untuk menakut-nakuti.

Ada baiknya, luangkan lebih banyak waktu untuk menonton berita bersama anak dan menanyakan pendapat anak. Sehingga, orangtua mengetahui bagaimana perasaan anak.

“Jika anak terlihat takut, orangtua bisa memberi penjelasan hal-hal yang positif pada anak. Misalnya meyakinkan anak bahwa sistem keamanan di Indonesia cukup baik untuk menangani serangan teroris, seperti aksi polisi yang cepat menghadapi para teroris kemarin.”

Berkaitan dengan hal ini, untuk menekan efek negatif pada anak terkait pemberitaan serangan terror, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan juga mengeluarkan panduan bagi orang tua bagaimana bicara pada anak tentang kejahatan terorisme:

- Cari tahu apa yang mereka pahami. Bahas secara singkat apa yang terjadi, meliputi fakta-fakta yang sudah terkonfirmasi. Ajak anak untuk menghindari isu dan spekulasi.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.