Kompas.com - 16/02/2016, 11:40 WIB
Matheus Lima memegang anaknya, Pietro, berumur 2 bulan, yang menderita mikrosefali diduga dampak virus Zika akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti, di Salvador, Brasil, 28 Januari 2016. AFP / CHRISTOPHE SIMONMatheus Lima memegang anaknya, Pietro, berumur 2 bulan, yang menderita mikrosefali diduga dampak virus Zika akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti, di Salvador, Brasil, 28 Januari 2016.
EditorLusia Kus Anna
KOMPAS.com — Di tengah ingar-bingar pemberitaaan mengenai bahaya virus zika pada janin, sekelompok dokter dari Argentina menyebutkan bahwa bukan virus zika yang menyebabkan cacat pada bayi.

Menurut Physicians in Crop-Sprayed Towns (PCST), yang memicu kasus lingkar kepala lebih kecil dari normal (mikrosefali) pada bayi-bayi di Brasil adalah larvasida toksik yang dimasukkan ke dalam sumber air minum warga Brasil.

Zat kimia larvasida semula disuntikkan ke dalam sumber air minum di Brasil tahun 2014 untuk menghentikan penyebaran larva nyamuk di tangki penampungan air.

Zat kimia yang disebut pyripoxyfen dipakai dalam program pemerintah untuk mengontrol populasi nyamuk di negara tersebut. Pyriproxyfen adalah larvasida yang dibuat oleh Sumitomo Chemimal, perusahaan yang terkait dengan Monsanto, perusahaan rekayasa genetik.

"Cacat lahir yang dideteksi pada ribuan bayi dari ibu hamil yang tinggal di wilayah di mana pemerintah daerah Brasil menambahkan pyriproxyfen ke air minum bukanlah sebuah kebetulan," tulis PCST dalam laporannya.

Bahkan, menurut PCST, Menteri Kesehatan Brasil telah menyuntikkan pyriproxyfen ke penampungan air di wilayah Pernambuco. Di area tersebut, perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypty yang membawa virus zika sangat tinggi.

Pernambuco juga merupakan daerah pertama di Brasil yang mendeteksi adanya masalah. Sekitar 35 persen kasus mikrosefali di seluruh Brasil ditemukan di area ini.

Dokter-dokter Argentina juga mengungkapkan bahwa dalam epidemi zika belum terbukti virus tersebut yang menyebabkan mikrosefali.

Di negara seperti Colombia yang juga banyak dilaporkan kasus zika, belum ditemukan kaitan antara mikrosefali dan zika. Dalam penelitian pada 3.177 ibu hamil yang terinfeksi zika, janin mereka sehat.

AFP / LUIS ROBAYO Larva nyamuk Aedes Aegypti yang diduga sebagai bakal vektor virus Zika, difoto di laboratorium International Training and Medical Research Center (CIDEIM) di Cali, Kolombia, 25 Januari 2016.
Belum disimpulkan

Halaman:
Baca tentang

Sumber Tech Times
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X