Kompas.com - 04/03/2016, 06:00 WIB
Penulis Amir Sodikin
|
EditorAmir Sodikin

Membongkar hambatan mental

Banyak orang, termasuk saya, yang sejak awal sudah tak yakin mampu berubah. Bagi saya, seolah sudah terpatri, enggak mungkin bisa menguruskan badan. Minum air putih saja jadi daging. Ditambah lagi, malas dan kurangnya waktu jadi hambatan kesekian.

Untuk membongkar asal muasal berbagai hambatan mental itu, peserta program "wellness" perlu dibawa ke masa lalu untuk menghapus kemarahan, kesedihan, ketakutan, dan rasa bersalah. Dengan teknik yang mirip hipnoterapi, peserta diminta menentukan emosi yang paling intensif yang pertama kalinya dialami atau dirasakan.

Peserta dibawa ke sebuah mesin waktu yang bisa mengubah linimasa seseorang, entah linimasa sekarang, masa depan, maupun masa lalu. Kemarahan, kesedihan, ketakutan, dan rasa bersalah adalah benalu hati yang harus dirontokkan.

Jika keempat emosi intens yang paling dalam itu bisa dimaafkan, maka emosi intens lainnya yang lebih kecil skalanya dengan mudah bisa dihancurkan dan diabaikan.

Monica membawa kami berkomunikasi dengan masa lalu, bahkan saat kami masih dalam kandungan, atau bahkan lebih jauh lagi ke belakang. Saya termasuk tipe orang yang bandel dengan program seperti ini. Selalu saja ada penolakan dalam diri saya apakah saya bisa mengikuti tamasya ke masa lalu itu.

Peserta biasanya diminta memejamkan mata. Semua lampu dimatikan. Ruangan gelap. Suara musik mengalun syahdu. Terasa hening dalam larutan hipnoterapi yang kental.

Kemudian Monica membimbing kami untuk memasuki alam bawah sadar. Saat peserta sudah berada di masa lalu, peserta diinstruksikan untuk melupakan emosi negatif itu. "Ambil hikmahnya saja," kata Monica.

Jika kita bisa menghapus dan merontokkan emosi negatif di masa lalu, maka hambatan-hambatan mental untuk bisa mengikuti program "wellness" bisa dilibas lebih mudah. Fase ini sangat penting karena bisa menjadi pijakan awal untuk memulai hidup baru.

Mencoba semampunya

Saya coba semampunya untuk mengenang masa lalu. Mata sudah saya pejamkan dalam-dalam. Memang terasa damai ketika sudah berada di masa lalu. Saya ingat satu per satu kejadian masa lalu, namun tetap terasa aneh karena saya tak tahu apakah sudah memasuki alam bawah sadar atau belum.

Begitu terapi itu usai, semua peserta diminta membuka matanya kembali. Lampu kembali dinyalakan. Teman di sebelah saya tampak segar wajahnya.

Saya kagum, ternyata dia bisa larut menyusuri masa lalunya dan berhasil memasuki ruang bawah sadarnya, melupakan masa lalunya. Dia memang ahli ibadah, karena itu wajar saja jika dia dengan mudah bisa menyusuri alam bawah sadarnya. 

Dia mengatakan, sudah sampai di linimasa masa lalu. Namun saat ingin pulang ke masa kini, ia merasa tersesat dan tak tahu jalannya. Pengalaman itu mirip dengan kondisi saya. 

Saya pun menduga, pasti teman saya yang satu ini sedang mengalami guncangan jiwa hebat. Sebuah emosi sangat intens pasti telah ia alami di masa lalu.

Saya pun dengan sopan memberanikan diri untuk bertanya. "Tampaknya begitu berat, kenapa sampai tak tahu jalan pulang?" tanya saya. 

"Saya tertidur tadi," jawabnya.

------
Catatan: walaupun tampak sederhana, metode "terbang ke masa lalu" ini tak boleh dilakukan sendiri di rumah, harus didampingi oleh praktisi yang memang ahli di bidangnya. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.