Kompas.com - 23/06/2016, 10:09 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - "Sudah ada beberapa gadis sekolah dasar yang menunjukkan pubertas dini," kata Dr Biro, seorang profesor pediatri di Rumah Sakit Anak Cincinnati Medical Center.

Ia mengatakan, pubertas tampaknya dimulai lebih awal pada anak perempuan, dan bahkan mungkin anak laki-laki. Bahkan, di Kaiser Permanente California Utara, dokter mulai mendapati tanda pubertas pada anak perempuan berusia 6 tahun.

"Secara umum, kami berpikir bahwa sudah banyak anak perempuan yang menunjukkan tanda pubertas prekoks pada usia 7 tahun," kata Louise Greenspan, seorang ahli endokrinologi pediatrik di Kaiser Permanente yang juga melakukan penelitian pubertas.

Pubertas prekoks adalah istilah medis untuk pubertas yang dimulai pada anak perempuan di bawah 8 tahun dan anak laki-laki di bawah 9 tahun.

Walau jarang, pubertas dini ini terkadang dipicu dari kondisi kesehatan, seperti tumor otak. Namun, seringkali penyebabnya masih belum diketahui. Pengobatan kerap digunakan untuk menghentikan atau memperlambat pubertas tersebut.

Konsekuensi kesehatan dari pubertas dini dinilai cukup banyak. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics menemukan, bahwa anak-anak perempuan yang memulai pubertas dini memiliki risiko depresi yang lebih tinggi pada awal masa remaja.

"Kita tahu, bahwa anak dalam masa pubertas mengalami peningkatan risiko perilaku menyimpang seperti penggunaan alkohol, merokok, penggunaan narkoba, dan perilaku seksual," kata Dr Biro.

"Kami juga tahu beberapa konsekuensi jangka panjang. Pubertas dini bisa meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan kanker payudara pada saat dewasa. "

Para ahli mengatakan, pubertas dini pada anak perempuan bisa berkaitan dengan obesitas. Ini karena lemak tubuh melepaskan hormon estrogen, yang dilepaskan dari indung telur selama masa pubertas, kemudian menyebabkan awal perkembangan payudara.

"BMI yang lebih tinggi mungkin adalah alasan terbesar," kata Dr Biro.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Mengurangi Risiko Kanker Ovarium

Cara Mengurangi Risiko Kanker Ovarium

Health
Jangan Sampai Kecolongan, Gejala Kanker Usus Bisa Dilihat dari Feses

Jangan Sampai Kecolongan, Gejala Kanker Usus Bisa Dilihat dari Feses

Health
Tips untuk Menjaga Kesehatan Usus

Tips untuk Menjaga Kesehatan Usus

Health
7 Gejala Kanker Usus dan Penyebabnya

7 Gejala Kanker Usus dan Penyebabnya

Health
6 Faktor Risiko Kanker Ovarium

6 Faktor Risiko Kanker Ovarium

Health
5 Masalah Payudara Ibu Menyusui dan Cara Mengatasinya

5 Masalah Payudara Ibu Menyusui dan Cara Mengatasinya

Health
Panduan Singkat untuk Perawatan Bayi Baru Lahir

Panduan Singkat untuk Perawatan Bayi Baru Lahir

Health
6 Cara Mencegah Kanker Usus yang Penting Dilakukan

6 Cara Mencegah Kanker Usus yang Penting Dilakukan

Health
8 Penyebab BAB Keras dan Cara Mengatasinya

8 Penyebab BAB Keras dan Cara Mengatasinya

Health
Apakah Mata Belekan pada Bayi Normal?

Apakah Mata Belekan pada Bayi Normal?

Health
Kanker Payudara Stadium 1, Apa Bisa Sembuh?

Kanker Payudara Stadium 1, Apa Bisa Sembuh?

Health
9 Herbal Penghilang Rasa Sakit Alami

9 Herbal Penghilang Rasa Sakit Alami

Health
10 Cara Mengobati Ambeien Secara Alami

10 Cara Mengobati Ambeien Secara Alami

Health
Kapan Waktu yang Tepat untuk Cabut Gigi Bungsu?

Kapan Waktu yang Tepat untuk Cabut Gigi Bungsu?

Health
Perbedaan Kanker Ovarium dan Kanker Serviks

Perbedaan Kanker Ovarium dan Kanker Serviks

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.