Kompas.com - 16/08/2016, 12:10 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemasangan ring (cincin) atau stent merupakan prosedur yang biasa dilakukan untuk membuka arteri koroner yang tersumbat dan memulihkan aliran darah jantung. Penyumbatan itu pada umumnya dipicu oleh penumpukan plak atau lemak darah.

Setelah dipasang ring, risiko serangan jantung karena pembuluh darah tersumbat dapat dihindari.

Lantas, apakah pasien akan bebas dari penyempitan maupun penyumbatan pembuluh darah jika sudah pasang ring jantung?

Ahli jantung dari Rumah Sakit Medistra Jakarta, Prof. Dr. dr. Teguh Santoso, SpPD-KKV, SPJP mengatakan, risiko penyempitan berulang tetap ada. Namun, kemungkinannya sangat kecil tergantung ring jantung yang digunakan dan gaya hidup pasien.

Jika menggunakan ring tak bersalut obat atau bare metal stent (BMS), kemungkinan terjadinya penyempitan kembali atau restenosis sebesar 15-20 persen. Sementara itu, jika menggunakan ring bersalut obat atau drug-eluting stent (DES), risiko penyempitan akan lebih kecil dibanding BMS.

"Obat dari stent menghambat hiperplasia neointima (pembentukan kerak) sehingga risiko penyempitan kembali lebih kecil," kata Santoso di RS Medistra Jakarta, Senin (15/8/2016).

Bahkan jika menggunakan DES generasi terbaru, kemungkinan penyempitan maupun penyumbatan kembali semakin kecil dibanding DES generasi pertama. Santoso mengungkapkan, DES generasi baru lebih tipis dari generasi lama.

Menurut Santoso, sejauh ini pemasangan ring jantung hasilnya sangat baik. Pasien bisa kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa dalam waktu hanya sehari setelah pasang ring jantung.

Mencegah sumbatan berulang

Setelah memasang ring jantung, pasien biasanya diberi obat pengencer darah untuk memperlancar aliran darah. Namun, Santoso mengingatkan pentingnya gaya hidup sehat dan kontrol kesehatan jantung untuk mencegah terjadi sumbatan berulang atau bahkan muncul penyempitan pembuluh darah di lokasi baru.

Gaya hidup sehat yang dianjurkan antara lain menghindari rokok dan jangan terlalu banyak makanan berlemak tinggi. Santoso mengungkapkan, banyak orang usia muda terkena penyakit jantung koroner karena kebiasaan merokok.

Selain itu, rutin olahraga maupun bergerak lebih aktif dan kontrol kesehatan secara berkala, seperti cek tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.