Kompas.com - 29/02/2020, 12:34 WIB

KOMPAS.com - Masuk angin seringkali membuat tubuh terasa tidak enak, pegal-pegal, dan perut kembung.

Tak jarang, gejala masuk angin juga disertai oleh sakit kepala yang membuat kita semakin sulit beraktivitas.

Lantas, benarkah masuk angin selalu menyebabkan sakit kepala?

Melansir SehatQ, terdapat berbagai penyakit atau kondisi medis yang dapat menyebabkan seseorang merasakan gejala masuk angin salah satunya selesma atau pilek.

Sakit kepala adalah gejala yang muncul pada penderita selesma. Selain itu, masuk angin juga bisa disebabkan oleh sinusitis dan sakit juga menyebabkan penderitanya mengalami sakit kepala.

Baca juga: 6 Minuman Hangat dan Sehat, Cocok untuk Musim Hujan

Penyebab sakit kepala

Namun, tidak semua sakit kepala disebabkan oleh masuk angin.

Melansir Medical News Today, sakit kepala bisa menjadi tanda stres atau tekanan emosional, atau bisa disebabkan oleh kelainan medis, seperti migrain atau tekanan darah tinggi, kecemasan, atau depresi.

Dilihat dari penyebabnya, ada dua jenis sakit kepala. Jenis pertama adalah sakit kepala primer yang biasanya dipicu oleh gaya hidup, seperti konsumsi alkohol, perubahan siklus tidur atau kurang tidur, postur tubuh yang buruk, kurang makan, dan stres.

Jenis kedua adalah sakit kepala sekunder adalah jenis sakit kepala yang disebabkan oleh kondisi medis lain, seperti infeksi atau cedera pada kepala.

Melansir Harvard Medical School, sakit kepala bisa menjadi gejala dari masalah fisik tertentu, seperti tekanan darah tinggi atau rendah.

Untuk kasus yang ekstrem, sakit kepala juga bisa disebabkan karena adanya pendarahan, infeksi atau tomor. 

Baca juga: 6 Titik Pijat Sakit Kepala untuk Redakan Ketegangan dan Stres

Mengatasi sakit kepala

Cara paling umum untuk mengobati sakit kepala adalah dengan beristirahat dan mengonsumsi obat pereda sakit kepala.

Kita bisa mengonsumsi obat pereda sakit kepala yang banyak dijual di toko atau menggunakan obat sesuai resep dokter, seperti antidepresan trisiklik, agonis reseptor serotonin, obat anti-epilepsi, dan penghambat beta.

Sayangnya, kita tidak boleh terlalu sering mengonsumsi obat pereda sakit kepala tanpa resep dokter karena terlalu sering mengonsumsinya justru dapat mengundang sakit kepala yang lebih parah.

Selain menggunakan obat-obatan, kita bisa meredakan sakit kepala dengan cara berikut:

  • Biofeedback, yaitu teknik relaksasi yang membantu dalam manajemen nyeri.
  • Mengikuti kelas manajemen stres yang dapat mengajarkan cara mengatasi stres dan menghilangkan ketegangan.
  • Terapi perilaku kognitif, yaitu jenis terapi yang mengajarkan cara mengenali situasi yang membuat Anda merasa stres dan cemas.
  • Akupuntur untuk mengurangi stres dan ketegangan dengan menerapkan jarum halus ke area spesifik tubuh.
  • Olahraga ringan agar dapat membantu dalam meningkatkan produksi senyawa kimia otak yang membuat tubuh merasa lebih bahagia dan rileks.
  • Terapi dingin atau panas dengan menempelkan bantalan pemanas atau kompres dingin ke kepala selama 5-10 menit beberapa kali sehari.
  • Mandi air hangat supaya otot yang tegang bisa lebih rileks.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.