BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan JOHN HOPKINS UNIVERSITY

Cegah Baby Boom Pascapandemi, Saatnya Masyarakat Wajib Gunakan Layanan KB

Kompas.com - 30/12/2020, 08:04 WIB
Ilustrasi kehamilan yang tak direncanakan. DOK. SHUTTERSTOCKIlustrasi kehamilan yang tak direncanakan.
|

KOMPAS.com – Indonesia diprediksi akan mengalami fenomena baby boom selama pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Fenomena ini ditandai dengan peningkatan angka kelahiran yang cukup signifikan.

Potensi lonjakan angka kelahiran di Indonesia pun diprediksi menyentuh angka 420.000 dari kehamilan yang tidak direncanakan selama PSBB periode 10 April sampai 4 Juni 2020.

Prediksi tersebut diperoleh berdasarkan estimasi penurunan penggunaan alat kontrasepsi hingga 10 persen dari total jumlah pengguna kontrasepsi, yakni sekitar 28 juta orang di seluruh Indonesia.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, 10 persen dari total 28 juta adalah 2,8 juta orang. Jadi, ada 2,8 juta orang yang biasanya pakai layanan keluarga berencana (KB) sekarang tidak pakai.

“Kemudian, jika terdapat 15 persen dari 2,8 juta orang itu hamil, berarti ada sekitar 420.000 kehamilan. Itu sangat signifikan karena di Indonesia jumlah persalinan per tahun sekitar 4,8 juta. Kalau naik 420.000 saja selama 3 bulan, kan sudah lumayan," ujar Hasto seperti diberitakan Kompas.com, Selasa (19/5/2020).

Lonjakan angka kelahiran itu pun dikhawatirkan dapat memperburuk kasus stunting serta meningkatnya angka kematian ibu dan bayi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Adapun salah satu faktor yang memengaruhi turunnya jumlah pengguna alat kontrasepsi pada masa PSBB adalah larangan ketat untuk keluar rumah. Kebijakan ini membuat beberapa orang jadi enggan untuk pergi ke klinik atau rumah sakit.

Di lain sisi, membludaknya pasien di rumah sakit juga menjadi salah satu alasan banyak orang takut memeriksakan kondisinya. Mereka khawatir tertular Covid-19 bila mengunjungi rumah sakit. Alhasil, mereka menunda penggunaan layanan KB.

Selain itu, beberapa klinik juga membatasi jam operasionalnya dan bahkan ada pula yang tidak beroperasi karena tidak siap dalam menjalani protokol ketat PSBB.

Ilustrasi alat kontrasepsi.DOK. SHUTTERSTOCK Ilustrasi alat kontrasepsi.

Solusi

Memang, imbauan untuk tetap berada di rumah masih digaungkan pemerintah hingga kini. Meskipun demikian, imbauan itu seharusnya tak menjadi penghalang untuk menggunakan alat kontrasepsi sebagai bagian perencanaan keluarga yang lebih baik.

Pada dasarnya, Anda masih bisa pergi ke klinik atau rumah sakit dengan aman dan nyaman. Kuncinya adalah disiplin menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan, seperti memakai masker, selalu mencuci tangan dengan air dan sabun yang mengalir, juga selalu membawa hand sanitizer ke mana pun Anda pergi.

Selain itu, Anda juga diwajibkan menjaga jarak dengan siapa pun saat berada di dalam fasilitas kesehatan.

Sebetulnya, ada sederet cara yang bisa dilakukan jika pergi ke klinik atau rumah sakit dirasa masih terlalu riskan. Anda bisa mengunjungi bidan atau dokter yang melakukan praktik di rumah. Dengan cara ini, Anda akan lebih leluasa memeriksakan diri karena tidak ada kerumunan orang.

Cara lainnya, Anda juga bisa menggunakan layanan telemedicine. Dengan layanan ini, Anda bisa melakukan konsultasi dengan dokter atau bidan melalui beberapa platform, seperti telepon, chat, email, atau bahkan melalui aplikasi tertentu.

Selain itu, Anda juga bisa menggunakan alat kontrasepsi cadangan, seperti kondom untuk sementara waktu.

Bila merasa butuh bimbingan tentang cara penggunaan kondom atau alat kontrasepsi lainnya, Anda juga bisa berkonsultasi dengan apoteker (bila membeli di apotek) atau penyuluh keluarga berencana (PKB) di daerah-daerah tertentu.

Ilustrasi keluarga berencana.DOK. SHUTTERSTOCK Ilustrasi keluarga berencana.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai alat kontrasepsi dan perencanaan keluarga, Anda juga dapat mengunjungi laman skata.info. Sebagai informasi, Skata adalah inisiatif digital yang mendukung pemerintah Indonesia dalam mendorong perencanaan keluarga yang lebih baik.

Skata sendiri diluncurkan pada 2015 melalui sebuah program kerja sama antara Johns Hopkins Center for Communication Programs (JHCCP) dan BKKBN. Di laman resmi Skata, Anda bisa mendapatkan informasi lengkap mengenai ragam pilihan alat kontrasepsi, mulai dari jenisnya, cara penggunaan, video penjelasan, kelebihan dan kekurangan, hingga tempat pelayanan yang bisa Anda kunjungi.

Dengan cara-cara tersebut, fenomena baby boom yang diprediksi akan terjadi pada masa pascapandemi bisa diminimalisasi. Selain itu, Anda juga sudah turut membantu pemerintah Indonesia dalam mewujudkan keluarga berencana yang bahagia dan sejahtera.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gairah Seks Menurun Setelah Menopause, Begini Cara Mengatasinya

Gairah Seks Menurun Setelah Menopause, Begini Cara Mengatasinya

Health
7 Penyebab Ambeien Berdarah yang Perlu Diwaspadai

7 Penyebab Ambeien Berdarah yang Perlu Diwaspadai

Health
Parafimosis

Parafimosis

Penyakit
11 Penyebab Tenggorokan Terasa Panas yang Bisa Terjadi

11 Penyebab Tenggorokan Terasa Panas yang Bisa Terjadi

Health
Asam Urat

Asam Urat

Penyakit
Mengenal Indeks Glikemik pada Makanan dan Efeknya Pada Tubuh

Mengenal Indeks Glikemik pada Makanan dan Efeknya Pada Tubuh

Health
Nyeri Mata

Nyeri Mata

Penyakit
Tanda-Tanda Si Kecil Siap Memulai MPASI

Tanda-Tanda Si Kecil Siap Memulai MPASI

Health
Kutil

Kutil

Penyakit
7 Penyebab Faringitis yang Perlu Diwaspadai

7 Penyebab Faringitis yang Perlu Diwaspadai

Health
Amnesia

Amnesia

Penyakit
9 Penyebab Sering Berdeham, Termasuk Bisa Jadi Gejala Penyakit

9 Penyebab Sering Berdeham, Termasuk Bisa Jadi Gejala Penyakit

Health
Mitos atau Fakta, Sering Marah Bikin Darah Tinggi?

Mitos atau Fakta, Sering Marah Bikin Darah Tinggi?

Health
Hepatitis D

Hepatitis D

Penyakit
16 Gejala Laryngopharyngeal Reflux (LPR) yang Perlu Diwaspadai

16 Gejala Laryngopharyngeal Reflux (LPR) yang Perlu Diwaspadai

Health
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.