KOMPAS.com - Penyakit jantung merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia, baik pada pria atau wanita. Namun, beberapa gejala penyakit dan serangan jantung pada wanita dapat berbeda dengan pria. Mengenali gejalanya sangat penting dan dapat membantu menyelamatkan nyawa.
Serangan jantung identik dengan nyeri di dada, tetapi wanita mungkin tidak menunjukkan gejala umum ini.
Ahli kardiologi Dr. Sim Hui Wen, dari National University Heart Centre, Singapura (NUHCS), mengatakan bahwa wanita dapat menunjukkan gejala khas yang mirip dengan pria, seperti rasa berat di dada yang dapat menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang, disertai keringat dingin dan mual.
"Namun, wanita lebih mungkin mengalami gejala tidak khas seperti sesak napas, pusing, gangguan pencernaan, kecemasan, dan kelelahan yang tidak biasa dibandingkan pria," katanya.
"Hal ini dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dan pengobatan karena pasien mungkin tidak tahu bahwa mereka menderita serangan jantung. Selain itu, dokter mungkin tidak mendiagnosis karena gejalanya tidak jelas."
Baca juga: Bos Samsung Meninggal Dunia karena Serangan Jantung, Kenali Gejalanya
Dikutip dari situs Mayoclinic, wanita lebih mungkin mengalami gejala serangan jantung berikut ini dibandingkan pria:
- Nyeri leher, rahang, bahu, punggung atas, atau perut bagian atas.
- Sesak napas.
- Nyeri pada salah satu atau kedua lengan.
- Mual atau muntah.
- Berkeringat.
- Pusing atau sakit kepala.
- Kelelahan yang tidak biasa.
- Mulas, juga disebut gangguan pencernaan.
Dibandingkan dengan pria, wanita cenderung lebih sering mengalami gejala tersebut saat beristirahat, atau bahkan saat tidur. Stres emosional juga dapat berperan dalam memicu gejala serangan jantung.
Baca juga: Apakah Nyeri Dada Selalu Terkait dengan Penyakit Jantung?
Dr. Sim mencatat bahwa wanita cenderung meremehkan gejala yang mereka alami dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang kurang serius, seperti stres atau kelelahan. Selain itu wanita juga cenderung mengabaikan tanda-tanda peringatan dini, dan menunggu gejala membaik dengan sendirinya.
Beberapa wanita mungkin takut dianggap bereaksi berlebihan atau khawatir jika kecemasan mereka akan diabaikan.
Faktor risiko
Meskipun banyak faktor risiko serangan jantung yang sama antara kedua jenis kelamin, tapi beberapa di antaranya hanya dialami oleh wanita. Contohnya termasuk menopause dini, diabetes gestasional, kelahiran prematur, sindrom ovarium polikistik, dan gangguan autoimun.
Faktanya, menopause sendiri merupakan faktor risiko signifikan untuk penyakit kardiovaskular terutama karena penurunan kadar estrogen.
Baca juga: Apakah Penderita PCOS Bisa Hamil? Ini Penjelasan Dokter
“Estrogen melindungi wanita dari penyakit jantung dengan mengatur kadar kolesterol baik dan menjaga fleksibilitas pembuluh darah,” kata Dr. Sim.
Setelah menopause, tekanan darah, kontrol lemak darah dan gula dapat memburuk karena hilangnya efek perlindungan dari estrogen.
Ketika estrogen menurun, lemak dapat menumpuk di pembuluh darah, yang menyebabkan penyempitan dan pengerasan arteri. Hal ini akan menyebabkan peningkatan tekanan darah serta peningkatan kadar kolesterol dan gula darah yang juga dapat menyebabkan serangan jantung.
Oleh karena itu memiliki gaya hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur sangat dianjurkan untuk mencegah penyakit jantung.
Baca juga: Mengenal Terapi Pengganti Hormon untuk Atasi Gejala Menopause
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.