Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pingsan Mendadak Bisa Jadi Gejala Gangguan Irama Jantung

Kompas.com - 08/06/2024, 10:00 WIB
Rini Agustin,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hilangnya kesadaran yang singkat alias pingsan bisa disebabkan karena berbagai sebab. Penyebab paling umum adalah tekanan darah yang turun tajam. Namun, pingsan mendadak juga bisa dipicu oleh gangguan jantung

Aritmia atau gangguan pada irama jantung merupakan penyebab tersering pingsan mendadak.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Alexandra Gabriella, menjelaskan penderita aritmia bisa merasakan irama jantungnya terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur.

“Ciri pingsan yang berbahaya yaitu tanpa gejala awal yang jelas, tiba-tiba pingsan, dan terjadi saat sedang melakukan aktivitas atau posisi terlentang,” jelas dr Gabi, panggilan akrabnya, dalam temu media bersama RS Pondok Indah Group di Jakarta, Jumat (7/6/2024).

Pingsan mendadak terjadi akibat irama jantung tiba-tiba cepat atau melambat, atau juga ada detak yang menghilang (skip a beat).

Baca juga: Kelainan Irama Jantung Tingkatkan Risiko Stroke

Menurut dr.Gabi pingsan seperti ini jangan disepelekan. Tanpa penatalaksanaan yang tepat, pasien bisa meninggal di tempat.

“Ini aritmia yang berbahaya, aritmia yang menyebabkan jantungnya berhenti berdetak. Jadi sebisa mungkin ditatalaksana dengan cepat dan tepat,” ujarnya.

Pertolongan pertama

Cara tepat untuk menolong seseorang yang pingsan mendadak adalah pertama mengecek respon pasien dengan menepuk bahunya dan memanggil nama orang tersebut.

"Jika pasien tidak memberikan respon tanda kesadaran, orang di sekitar harus segera memanggil bantuan dengan berteriak minta tolong atau telepon nomor darurat 112 untuk pertolongan medis," ucapnya.

Sambil menunggu pertolongan medis datang, penolong bisa mengecek napas korban dan memeriksa detak nadi dari pergelangan tangan atau di leher di bawah rahang untuk mengetahui denyut jantungnya.

Baca juga: Waspada Aritmia di Usia Muda, Kenali Gejala hingga Pengobatannya

“Posisi cek nadi di arteri pergelangan tangan pakai tiga jari, yang menekan jari manis, yang meraba dua jari depan (tengah dan telunjuk), atau bisa juga di leher,” jelasnya.

Selain itu, awam yang sudah terlatih juga bisa melakukan bantuan hidup dasar dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau cardiopulmonary resuscitation (CPR) dengan teknik yang benar. CPR dilakukan terus sampai korban sadar atau sampai bantuan medis datang.

“Jika pasien tidak sadarkan diri, posisikan diri dan lingkungan aman, posisikan tubuh di sisi korban dan pastikan tangan pada posisi yang benar. Lakukan pijat jantung yang kuat dengan kecepatan setidaknya 100 kali per menit dan kedalaman lima centimeter,” katanya.

Denyut normal

Irama jantung yang sehat dan normal adalah 60-100 kali per menit, jika irama jantung terasa lebih cepat dan ada detak tambahan yang tidak teratur maka disarankan untuk melakukan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) atau memeriksa kelainan hormon pada tubuh.

“Detak jantung saat istirahat normalnya 60-100 kali per menit, kalau cepat pada saat istirahat harus periksa hormon tiroid, atau sedang diam tapi detak jantung 97, berarti ada sesuatu dengan jantungnya,” katanya.

Baca juga: Peneliti Temukan Penyebab Kenapa Kita Bisa Pingsan

Jika merasakan gejala aritmia seperti berdebar, detak jantung menghilang, detak jantung terasa tidak teratur, pusing, lemas, sesak napas, pingsan mendadak, dan rasa tidak nyaman di dada untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter.

“Periksakan ke dokter kalau mengalami gejala gangguan irama jantung dan rutin untuk cek nadi sendiri,” tuturnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com