-Lansia dan anak kecil
-Penderita penyakit paru-paru atau jantung kronis
-Orang dengan kondisi neurologis yang memengaruhi kemampuan menelan
-Pasien rumah sakit atau penghuni panti jompo
-Perokok
-Wanita hamil
-Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah
Menurut Pusat Statistik Kesehatan Nasional AS (CDC), lebih dari 41.000 orang meninggal akibat pneumonia di AS pada 2023, dan ada 1,4 juta kunjungan gawat darurat akibat pneumonia pada 2021.
Sebagian besar pasien pneumonia dapat pulih dalam waktu dua hingga empat minggu dengan pengobatan antibiotik, tetapi orang berusia di atas 65 tahun lebih berisiko mengalami penyakit yang lebih parah dan membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Paus Fransiskus memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia karena sudah memiliki beberapa kondisi paru-paru sebelumnya, seperti bronkiektasis.
Bronkiektasis adalah kondisi jangka panjang di mana bronkus (saluran udara utama di paru-paru) melebar, menyebabkan penumpukan lendir yang lebih banyak dari biasanya, yang meningkatkan risiko infeksi paru-paru. Kondisi ini bisa disebabkan oleh kerusakan jaringan dan otot di sekitar bronkus, sering kali akibat infeksi paru-paru sebelumnya.
Baca juga: Belajar dari Fenita Arie: Waspada Pneumonia saat Traveling ke Jepang
Gejala bronkiektasis bervariasi, tetapi umumnya meliputi:
-Sesak napas
-Batuk kronis yang menghasilkan dahak
-Selain itu, pernyataan Takhta Suci menyebutkan bahwa Paus Fransiskus juga memiliki bronkitis asma, yaitu kondisi di mana seseorang mengalami asma dan bronkitis akut secara bersamaan.
Gejala utama bronkitis asma meliputi:
-Dada terasa sesak
-Mengi
-Kesulitan bernapas
-Demam
Secara umum, bronkitis adalah peradangan pada bronkus. Orang dengan asma lebih rentan terhadap bronkitis karena saluran udara mereka lebih sempit dan lebih sensitif terhadap iritasi. Akibatnya, bakteri atau virus lebih mudah terjebak dan menyebabkan infeksi.
Paus Fransiskus juga mungkin lebih rentan terhadap masalah paru-paru karena saat masih muda, ia pernah mengalami pleuritis dan harus menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-parunya pada usia 21 tahun.
Baca juga: Polusi Udara Bisa Sebabkan Bronkitis, Begini Gejalanya
Pleuritis adalah kondisi peradangan pada lapisan paru-paru dan rongga dada, yang menyebabkan nyeri dada tajam, terutama saat bernapas, batuk, atau bergerak.
Penyebabnya bisa bermacam-macam, termasuk penyakit autoimun, kanker, trauma dada, atau pembekuan darah di paru-paru, tetapi biasanya dipicu oleh infeksi.
Dalam beberapa kasus, pleuritis dapat menjadi tanda awal pneumonia atau menyebabkan kerusakan paru-paru yang meningkatkan risiko terkena penyakit pernapasan lain, seperti bronkitis.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.