KOMPAS.com - Dosen Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Annie Purwani meneliti tentang bahaya material baterai bekas pakai untuk kesehatan manusia.
Annie menyampaikan hasil penelitian pada Ujian Terbuka Promosi Doktor Teknik Industri soal penelitian strategi optimal dalam mengelola End-of-Life (EoL) baterai swap sepeda motor listrik di Solo, Jawa Tengah, pada Jumat (21/2/2025).
Ia mengatakan bahwa baterai bekas pakai yang hanya didiamkan akan berdampak pada kesehatan.
"Karena di dalamnya ada nikel, mangan yang akan memengaruhi kesehatan atau bisa menjadi pemicu kanker dan gangguan pernapasan pada manusia," ujarnya seperti yang dikutip dari Antara pada Jumat (21/2/2025).
Baca juga: Material Lateks Tipis Jadi Inovasi Dorong Minat Pria Pakai Kondom
Sementara, jika ada material baterai yang hanyut di air, ekosistem lingkungan akan terpengaruh dengan perubahan keasaman air.
"Dengan begitu air menjadi tidak aman untuk dikonsumsi. Sedangkan, jika kena di tanah juga akan mengganggu ekosistem tanah," katanya.
Oleh karena itu, ia menyarankan untuk melakukan daur ulang khusus pada baterai bekas pakai untuk mengurangi dampak pada kesehatan dan ekosistem lingkungan.
"Jadi baterai yang sebetulnya masih baik harapannya bisa dapat didaur ulang karena ini kan ada material pendukungnya. Kalau bikin baru dengan material baru artinya harus membuka pertambangan baru. Akhirnya lama-lama juga akan habis," terangnya.
Baca juga: Peneliti Temukan Cara untuk Menghapus Kenangan Buruk
Pada kesempatan itu, ia juga mengaitkan dengan meningkatnya penggunaan sepeda motor Listrik yang ditenagai baterai.
Meski sepeda motor listrik merupakan solusi transportasi ramah lingkungan, menurutnya, ada tantangan besar terkait pengelolaan baterai bekas pakai pada kendaraan tersebut.
Dalam penelitiannya, Annie mengusulkan konsep EoL baterai swap dengan metode Life Cycle Assessment (LCA) untuk mengukur dampak lingkungan dan menentukan kriteria serta nilai cut-off guna mendukung rantai pasok sirkular yang lebih efisien.
"Strategi ini memperpanjang masa pakai baterai dan mengurangi dampak lingkungan, serta berpotensi diintegrasikan dengan Battery Management System (BMS) untuk recall baterai yang lebih akurat sebelum mencapai End-of-Life," paparnya.
"Temuan ini memberikan solusi nyata bagi industri EV serta mendukung pengembangan keilmuan sistem logistik dan rekayasa bisnis dalam bidang teknik industri," imbuhnya.
Baca juga: Peneliti Manfaatkan AI untuk Prediksi Risiko Sindrom Metabolik
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.