Minggu, 26 Oktober 2014 03:34
Caring by Sharing | Kompas.com

NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Saatnya Siaga Gula Darah

Penulis : Lusia Kus Anna | Senin, 13 September 2010 | 12:34 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

Kompas.com - Diabetes merupakan penyakit yang bisa merenggut penglihatan, kerja ginjal, bahkan jantung. Sebuah penyakit yang sudah menewaskan ribuan orang. Kendati demikian, banyak orang yang hanya angkat bahu ketika ditanya tentang kemungkinan terkena penyakit ini karena gejalanya memang bisa tak terlihat.

Periksakan gula darah guna mewaspadai naiknya kadar glukosa.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Federasi Diabetes Internasional memperkirakan lebih dari 50 persen pengidap diabetes tipe 2 tidak terdiagnosis. Mereka umumnya baru ketahuan saat berobat untuk penyakit lain. Di Indonesia, mayoritas pasien diabetes datang ke dokter sudah membawa setumpuk komplikasi. Karena itu perlu dilakukan deteksi dini untuk mencegah penyakit ini.

Diagnosis diabetes melitus dapat dilakukan dengan beberapa cara yang pada dasarnya melalui keluhan klinis dan dukungan pemeriksaan penunjang. Pada diabetes, gula darah selalu tinggi. "Dokter baru mendiagnosa seseorang diabetes bila kadar gula darah sewaktunya di atas 200 mg/dl atau gula darah puasa lebih atau sama dengan 126 mg/dl ," kata Prof.dr.Sri Hartini KS.Kariadi, Sp.PD-KEMD, penulis buku Diabetes? Siapa Takut!!

Ia menambahkan, ada beberapa kasus dengan kadar gula tinggi tetapi bukan diabetes, melainkan pra-diabetes, yakni bila pemeriksaan gula darah sewaktu menunjukkan angka 140 mg/dl.

"Pra-diabetes biasanya ditemukan sebelum atau mendahului timbulnya diabetes. Pasien pada golongan ini tidak sepenuhnya diperlakukan seperti diabetesi, tetapi mereka sudah diwanti-wanti untuk menjaga makanan dan berolahraga agar penyakitnya tidak berkembang menjadi diabetes," kata Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung ini.

Senada dengan Prof.Sri Hartini, Prof.Dr.Sidartawan Soegondo, Sp.PD, KEMD, mengatakan orang yang mengalami pra-diabetes masih bisa membalikkan keadaan atau paling tidak melambatkan perburukan kondisi. "Pada dasarnya dalam kondisi ini sudah terjadi resistensi insulin. Namun kondisi ini bisa dipulihkan dengan mengubah gaya hidup jadi lebih sehat," papar Presidan Persatuan Diabetes Indonesia ini dalam media edukasi tentang diabetes di Jakarta beberapa waktu lalu.

Kontrol gula darah Dalam waktu lima tahun, pradiabetes yang tidak ditangani akan berkembang menjadi diabetes. Seseorang didiagnosis menderita diabetes ketika tubuhnya tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak menggunakan insulin yang ada dengan benar. Insulin adalah hormon yang dikeluarkan oleh pankreas dan diperlukan untuk mengubah makanan menjadi energi.

Pada orang sehat, glukosa secara otomatis diserap oleh sel-sel. Tubuh menggunakan glukosa tepat sesuai kebutuhan dan menyimpan yang tersisa. Akan tetapi tanpa insulin yang berfungsi membuka reseptor sebuah sel sehingga glukosa dapat masuk, gula yang berlebih ini terkumpul di aliran darah dan bisa menyebabkan segudang masalah.

Kelebihan berat badan merupakan faktor utama untuk diabetes pada orang dewasa. Hal ini terutama sangat penting untuk orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penderita diabetes. Menurut Sidartawan, mereka yang berisiko tinggi terkena diabetes adalah berusia lebih dari 40 tahun, hipertensi, kegemukan, kolesterol tinggi, serta memiliki riwayat dalam keluarga. "Mereka ini dianjurkan melakukan pemeriksaan dini," katanya.

Langkah utama untuk menghindari risiko diabetes dan komplikasinya adalah dengan melakukan pemantauan gula darah secara rutin. Tingginya kadar gula darah menimbulkan komplikasi pembuluh darah. Mikroangiopati (gangguan mata, ginjal, dan saraf) maupun makroangiopati (stroke dan gangguan jantung).

Diabetes adalah penyakit yang menyerang secara diam-diam namun berakibat menjadi sebuah bencana. Karena itu penting bagi kita untuk memeriksakan gula darah guna mewaspadai naiknya kadar glukosa.

Saat ini banyak tersedia alat pengukur gula darah mandiri yang bisa dilakukan oleh kaum awam sehingga pasien bisa memantau sendiri gula darahnya. "Dengan pemantauan gula darah, konsumsi makanan bisa dikelola sehingga tak menimbulkan diabetes," kata Hery Purwanto, Product Manager Accu-Chek dari PT. Roche Indonesia.

Hindari kegemukan Mereka yang diketegorikan pradiabetes sudah harus mengubah gaya hidup. Perubahan itu bisa memperlambat, bahkan mencegah terjadinya diabetes. Ini berarti lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung serat, menghindari gula, serta mengendalikan berat badan.

"Untuk mencegah diabetes, mereka yang termasuk pradiabetes dianjurkan untuk mengurangi atau menghilangkan faktor risiko, seperti kegemukan, kurang gerak dan faktor risiko lainnya," kata Sri Hartini.

Peneliti di Harvard University, Amerika Serikat, menemukan bahwa olahraga merupakan cara yang baik untuk membantu mencegah diabetes tipe 2. Dari wawancara dengan 22.000 dokter, para peneliti menemukan bahwa pria yang berolahraga sekurangnya lima kali dalam seminggu bisa menurunkan risiko mereka menderita diabetes hingga 40 persen.

Olahraga juga akan membantu tubuh lebih maksimal menyerap semua gula yang beredar dalam tubuh. Olahraga yang disarankan adalah yang bersifat aerobik dan dilakukan secara teratur. Dalam jangka panjang hal ini akan membuat sensitivitas tubuh terhadap glukosa menjadi lebih besar sehingga kadar gula darah lebih stabil.



IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui