Selasa, 28 April 2015

Health

Pemerintah Gagal Kembangkan Industri Migas

Kamis, 15 Maret 2012 | 23:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah selalu ngotot menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), setiap kali harga minyak mentah dunia naik seperti saat ini. Itu menunjukkan kegagalan pemerintah, dalam memperbaiki infrastruktur minyak dan gas di dalam negeri.

Kritik itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Addien Jauharuddin, di Jakarta, Kamis (15/3/2012).

"Jika pemerintah bekerja keras membangun infrastruktur industri minyak dan gas (migas), tentu kenaikan harga minyak dunia bisa diantisipasi, tanpa perlu menaikkan harga BBM di dalam negeri" katanya.

Kondisi itu justru akan menguntungkan karena, menurut Addien, seiring dengan harga jual yang meninggi, penerimaan Indonesia dari produksi migas yang diekspor ke luar negeri akan meningkat. Keuntungan ini bisa untuk menambal pembesaran subsidi BBM di APBN, bahkan bisa surplus.

"Sayangnya, negara ini masih saja dirundung dengan berbagai masalah, seperti penyelundupan, dan bertebarannya mafia minyak," ujar Addien.

Untuk membangun industri migas, lanjutnya, semestinya pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis dan berani menerobos kebuntuan. Tujuannya, untuk meningkatkan pendapatan negara dari sektor migas, tanpa harus mengurangi subsidi.

Salah satunya, perlu kebijakan windfall profit tax (pajak tambahan) atas keuntungan perusahaan minyak akibat lonjakan harga minyak mentah dunia. Evaluasi dan pangkas cost recovery atas biaya non-operasional.

"Renegosiasi semua kontrak kerja sama agar lebih menguntungkan negeri ini. Pangkas alur perdagangan minyak dalam rangka ekspor-impor," kata Addien

Selain itu, Indonesia  perlu menambah kapasitas kilang Pertamina sesuai dengan spesifikasi minyak mentah Indonesia. Semua kontraktor asing harus menjual semua jatah minyaknya kepada Pertamina, agar diproses di dalam negeri dan untuk kebutuhan domestik.

"Kita juga harus menyiapkan infrastruktur bahan bakar gas (BBG) untuk seluruh Indonesia," katanya.

Penulis: Ilham Khoiri
Editor : Agus Mulyadi