Malaria Makin Kebal terhadap Obat

Kompas.com - 23/04/2010, 16:36 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyakit malaria sudah semakin resisten (kebal) terhadap obat-obat yang biasa digunakan masyarakat seperti Klorokuin, Primakuin, dan Sulfadoksin-Pirimetamin sehingga pemakaiannya sudah dihentikan.

"Obat-obatan malaria ini sejak 1990-an sudah mulai resisten karena pemakaian terus-menerus, sekarang sudah tidak dianjurkan dan kami hentikan," kata Staf Subdit Malaria Kementerian Kesehatan Minerva Theodora di sela-sela Diskusi Panel Penanggulangan dan Penatalaksanaan Malaria di Jakarta, Kamis (22/4/2010) kemarin.

Ia menyesalkan obat-obatan tersebut masih ada di pasaran dan dijual bebas karena obat tersebut sudah tak ada lagi fungsinya dan kalaupun bisa menyembuhkan, hanya sementara.

"Obat-obatan malaria sudah diganti dengan Terapi Kombinasi berbasis Artemisinin (ACT) bagi penderita yang positif sediaan darahnya terdapat Plasmodium baik falsiparum, vivax, ovale atau campurannya," katanya.

Karena itu, tegasnya, setiap orang dengan gejala malaria harus diperiksa sediaan darahnya untuk memastikan apakah di dalam darahnya terdapat parasit malaria (plasmodium), jadi tidak asal makan obat saja.

Setelah positif, baru diberi terapi kombinasi antara lain kombinasi antara artesunat dan amodiaquine, artesunat dan lumefrantine, artesunat dan piperquine serta dihidroartemisinin dan piperquine.

"Kombinasi selain untuk menyembuhkan, ditujukan untuk mencegah resistensi terhadap artemisinin," ujarnya.

Sedangkan untuk penderita malaria berat atau dengan komplikasi, maka diberikan obat anti malaria berupa injeksi artemeter atau injeksi artesunat sampai pasien bisa minum obat berupa tablet ACT.

Orang yang terkena gejala malaria akan demam, menggigil, berkeringat, dan bisa disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina itu akan mengakibatkan anemia karena rusaknya sel-sel darah merah dan menyebabkan koma, kegagalan multi organ hingga kematian.

Sejumlah provinsi di Indonesia masih merupakan endemis tinggi malaria (di atas lima kasus per 1.000 penduduk) yaitu Provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.