Jadi Perokok Pasif, Anak Bisa Hipertensi

Kompas.com - 11/01/2011, 15:26 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Anak-anak yang hidup dengan orangtua perokok berisiko lebih besar menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi, meski mereka masih kecil. Padahal, hipertensi pada anak bisa berlanjut hingga mereka beranjak dewasa.

Dalam situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) disebutkan, hipertensi pada anak adalah suatu keadaan tekanan darah sistolik dan atau diastolik rata-rata berada pada persentil besar sama dengan 95 menurut umur dan jenis kelamin, yang dilakukan paling sedikit tiga kali pengukuran.

Hipertensi pada anak dibagi dua kategori, yaitu hipertensi primer bila penyebab hipertensi tidak dapat dijelaskan. Hipertensi ini biasanya berhubungan dengan faktor keturunan, masukan garam, stres, dan kegemukan. Sedangkan hipertensi sekunder terjadi akibat adanya penyakit lain yang mendasarinya, misalnya penyakit ginjal.

Dalam riset terbaru yang dipimpin Dr Giacomo D Simonetti dari Children's Hospital Universitas Bern, Swiss, disebutkan bahwa menjadi perokok pasif merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi pada anak.

Dalam penelitiannya, Simonetti dan timnya menguji data pada 4.236 anak laki-laki dan perempuan berusia 5-6 tahun yang tinggal di bagian barat daya Jerman. Sekitar 29 persen ayah anak-anak tersebut dan 21 persen ibu mereka adalah perokok. Sebanyak 12 persen anak juga memiliki kedua orangtua yang merokok.

Setelah menghitung faktor penyakit jantung lain, seperti berat badan saat lahir, kelahiran prematur atau orangtua yang hipertensi, para peneliti menemukan bahwa orangtua yang merokok merupakan faktor independen terhadap kejadian hipertensi pada anak-anak tersebut.

Penelitian juga menemukan anak yang ibunya merokok memiliki dampak yang lebih buruk pada tekanan darahnya dibanding jika terpapar dari asap rokok ayahnya.

"Pencegahan penyakit kardiovaskular pada usia dewasa bisa dimulai sejak usia anak-anak dengan menghindari faktor risikonya, termasuk menghindari paparan asap rokok. Konsekuensinya bisa berlangsung jangka panjang," kata Simonetti.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.