Osteoporosis Bukan Penyakit Lanjut Usia

Kompas.com - 29/10/2011, 16:24 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com — Penyakit osteoporosis selama ini memang identik diderita oleh kalangan usia lanjut. Namun, ini bukan berarti semakin tua usia seseorang semakin mudah pula mereka menderita osteoporosis.

"Osteoporosis itu bukan penyakit tua. Memang lebih banyak diderita pada orang tua, tapi penyakit ini bisa dicegah," kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, Ekowati Rahajeng saat acara temu media dengan tema "Cintai Tulangmu Cegah Osteoporosis", di Jakarta, Jumat (28/10/2011).

Osteoporosis sering disebut sebagai silent disease. Si penderita biasanya tidak merasakan nyeri atau gejala apa pun sampai pada akhirnya mengalami patah tulang. Eko mengatakan, berdasarkan data Puslitbang Gizi Departemen Kesehatan dan Persatuan Osteoporosis Indonesia (Perosi), perempuan memiliki angka kejadian lebih tinggi mengalami osteoporosis ketimbang laki-laki.

Bahkan, diperkirakan pada 2015 jumlah perempuan dengan osteoporosis di Indonesia meningkat menjadi 24 juta orang.

Kalsium saja tak cukup

Selama ini, kata Eko, masih banyak warga yang beranggapan, kalau sudah mengonsumsi kalsium, maka dapat dipastikan bebas dari ancaman osteoporosis. "Padahal, walaupun konsumsi kalsium tinggi, tapi kalau tidak diimbangi makan sayur dan buah tidak akan efektif karena buah dan sayur sangat diperlukan untuk metabolisme," paparnya.

Ia mengungkapkan, asupan kalsium orang Indonesia saat ini masih sangat rendah dibandingkan dengan jumlah yang dianjurkan. Rata-rata orang dewasa di Indonesia baru memenuhi asupan kalsium sebesar 270-300 mg per hari, padahal jumlah yang dianjurkan menurut standar internasional adalah 1000-1200 mg per hari.

Untuk memenuhi asupan kalsium, tidak harus selalu dengan mengonsumsi susu saja karena masih banyak makanan sumber kalsium lain seperti ikan teri dan kacang-kacangan.

"Dalam mencegah osteoporosis, pemenuhan gizi saja tidak cukup tanpa dibarengi latihan fisik, paparan sinar matahari yang cukup, serta yang paling penting stop merokok," tegasnya.

Eko mengatakan, kebanyakan orang belum sadar bahwa rokok juga dapat menjadi salah satu faktor pencetus keroposnya tulang. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan, kandungan tar dan nikotin dapat sangat mengganggu metabolisme penyerapan dari kalsium.

"Hal-hal seperti ini diharapkan semakin disadari masyarakat sehingga dapat tersosialisasikan dengan baik," tandasnya.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X