Kompas.com - 31/07/2012, 13:19 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Anak seharusnya mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan dan pelecehan. Kekerasan fisik dan juga pelecehan seksual yang dialami anak-anak akan menimbulkan dampak seumur hidupnya.

Dalam rriset teranyar juga diungkapkan bahwa kekerasan dan pelecehan seksual pada anak dapat mempercepat atau bahkan menunda seorang anak mengalami menarche (haid pertama kali), khususnya pada perempuan.

Demikian disampaikan Renee Boynton-Jarrett, MD, asisten profesor pediatri di Boston University School of Medicine (BUSM). Temuan ini dipublikasikan secara online dalam Journal of Adolescent Health.

Dalam kajiannya Boynton-Jarrett berhasil menemukan peningkatan 49 persen dalam risiko menarche dini (menstruasi sebelum usia 11 tahun) di antara perempuan yang mengaku pernah mengalami pelecehan seksual di masa kanak-kanak.

Ia juga menemukan ada peningkatan 50 persen risiko untuk keterlambatan haid (menstruasi setelah usia 15 tahun) di antara perempuan yang masa kecil pernah mengalami kekerasan fisik. Kesimpulan tersebut diambil setelah penelitian menganalisa sebanyak 68.505 perempuan yang terdaftar dalam Nurses Health Study II.

"Kekerasan pada anak dapat memengaruhi kapan seorang anak mendapatkan menstruasi pertamanya. Hubungan ini bervariasi menurut jenis penyalahgunaan, yang menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak tidak memiliki efek yang homogen pada hasil kesehatan," kata Boynton-Jarrett.

"Butuh penelitian lebih kanjut untuk mengeksplorasi karakteristik pelecehan anak yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan termasuk diantaranya jenis, waktu dan tingkat keparahan kekerasan, serta dalam konteks sosial di mana penyalahgunaan itu terjadi," tambahnya.

Kekerasan terhadap anak selama ini telah dikaitkan dengan beban kesehatan yang signifikan selama hidup. Mendapat haid di usia terlalu dini telah dikaitkan dengan risiko seperti penyakit jantung, disfungsi metabolik, kanker dan depresi, sedangkan keterlambatan mendapat haid dikaitkan dengan kepadatan mineral tulang yang lebih rendah dan depresi.

"Kita harus bekerja menuju pemahaman yang lebih baik bagaimana kekerasan pada anak dapat memengaruhi kesehatan dan menerjemahkan hasil penelitian ke dalam praktek klinis dan strategi kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan korban pelecehan anak," tambah Boynton-Jarrett.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.