Kompas.com - 25/12/2012, 14:30 WIB
EditorAsep Candra

KOMPAS.com - Sebuah penelitian baru yang dilakukan sebuah tim di Albuquerque New Mexico memberikan prespektif baru tentang insomnia kronis. Penelitian yang sederhana dan masih dalam skala kecil ini mencoba untuk melihat secara obyektif kenapa penderita insomnia kronis sering terjaga di malam hari.

Para peneliti mengumpulkan 20 orang penderita insomnia kronis untuk direkam tidurnya menggunakan polisomnografi (PSG) di laboratorium tidur. Hasilnya ternyata mengejutkan banyak ahli, 90 persen penyebab pasien terjaga adalah gangguan nafas saat tidur, sleep apnea! Padahal secara subyektif, para peserta penelitian menyatakan penyebab mereka terjaga adalah 50 persen tak tahu penyebabnya terjaga, 45 persen karena mimpi buruk, 35 persen karena dorongan untuk kencing, 20 persen karena gangguan lingkungan tidur dan 15 persen akibat rasa sakit.

Tak satu pun peserta menduga dirinya terjaga akibat gangguan nafas. Bahkan 11 dari 20 peserta penelitian dinyatakan positif menderita sleep apnea. Padahal, sebelum penelitian para peserta sudah disaring. Jika menunjukkan gejala sleep apnea, seperti mendengkur atau kantuk berlebihan, peserta akan dicoret dari keikutsertaannya. Tak satu pun peserta yang mendengkur.

Keluhan penderita insomnia bisa dikatakan berlawanan dengan penderita sleep apnea. Jika penderita sleep apnea mendengkur dan terus mengantuk, penderita insomnia justru mengeluhkan kesulitan memulai atau mempertahankan tidur. Penderita insomnia dengan kesulitan mempertahankan tidur, mudah terbangun di tengah malam dan biasanya sulit untuk tidur kembali.

Sleep apnea merupakan gangguan nafas saat tidur yang menyebabkan penderitanya terbangun (arousal) akibat sesak. Penderita terbangun tanpa terjaga, hingga ia tak ingat terbangun berulang kali sepanjang malam. Akibat proses tidur yang terpotong-potong, penderita sleep apnea bangun tak segar dan terus mengantuk sepanjang hari.

Para ahli berhipotesa, keterjagaan di tengah malam berhubungan dengan kondisi hyperarousal pada penderita insomnia. Hyperarousal, untuk mudahnya diartikan sebagai kondisi terlalu tegang untuk tidur, akibatnya penderita mudah sekali terjaga. Diduga, episode bangun singkat yang disebabkan sleep apnea memicu penderita insomnia terjaga. Sayang penderita tak menyadari penyebabnya terjaga. Penderita hanya tahu ia terjaga.

Selama ini, perawatan insomnia diarahkan pada hyperarousal. Lewat perawatan perilaku kognitif (cognitive behavior therapy for insomnia/CBTi) pasien diajarkan untuk mengenali tidurnya dan mengurangi ketegangannya. Misalkan dengan mengatur jadwal tidur, ritual persiapan tidur dan mengatur higiene tidur yang baik. Dengan sendirinya penderita jadi tak mudah terjaga. Jika sampai terjaga pun penderita insomnia akan mudah kembali tidur. Namun hingga kini penyebab keterjagaannya sendiri tak pernah jadi perhatian. Fokus perawatan diutamakan agar penderita dapat mudah kembali tidur.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penelitian ini telah memberikan kemungkinan baru dalam perawatan insomnia kronis. Jika selama ini perawatan insomnia kronis adalah dengan CBTi, cognitive behavior therapy for insomnia dan medikasi obat-obatan, di masa depan ditambahkan juga dengan pemeriksaan dan perawatan sleep apnea.

Penelitian- penelitian di masa depan diharapkan akan lebih mencerahkan. Bagi klinisi di praktek sehari-hari penelitian ini memberikan harapan baru untuk merawat pasien dengan insomnia kronis. Pemeriksaan tidur bisa memberikan petunjuk tentang penyebab penderita terjaga dan merawatnya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    7 Gejala Kanker Ovarium, Wanita Perlu Waspada

    7 Gejala Kanker Ovarium, Wanita Perlu Waspada

    Health
    Gangguan Stress Pascatrauma (PTSD)

    Gangguan Stress Pascatrauma (PTSD)

    Penyakit
    5 Manfaat Sunat untuk Kesehatan Laki-laki

    5 Manfaat Sunat untuk Kesehatan Laki-laki

    Health
    Eklampsia

    Eklampsia

    Penyakit
    13 Cara Mengatasi Sakit Perut saat Haid Pakai Obat dan Secara Alami

    13 Cara Mengatasi Sakit Perut saat Haid Pakai Obat dan Secara Alami

    Health
    Patah Tulang

    Patah Tulang

    Penyakit
    10 Obat Eksim Alami yang Bisa Dijajal di Rumah

    10 Obat Eksim Alami yang Bisa Dijajal di Rumah

    Health
    Regurgitasi Aorta

    Regurgitasi Aorta

    Penyakit
    Mengenal Double Pneumonia, ketika Infeksi Menyerang Kedua Paru

    Mengenal Double Pneumonia, ketika Infeksi Menyerang Kedua Paru

    Health
    Apakah Susu Efektif untuk Mencegah Osteoporosis?

    Apakah Susu Efektif untuk Mencegah Osteoporosis?

    Health
    Gangguan Makan

    Gangguan Makan

    Penyakit
    Cara Meredakan Sakit Akibat Gigi Bungsu Tumbuh

    Cara Meredakan Sakit Akibat Gigi Bungsu Tumbuh

    Health
    5 Hal yang Bisa Membuat Gula Darah Melonjak

    5 Hal yang Bisa Membuat Gula Darah Melonjak

    Health
    Iktiosis

    Iktiosis

    Penyakit
    Kenali Pendarahan Implantasi, Tanda-tanda Awal Kehamilan

    Kenali Pendarahan Implantasi, Tanda-tanda Awal Kehamilan

    Health
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.