Kompas.com - 20/02/2013, 13:47 WIB
EditorAsep Candra

JAKARTA, KOMPAS.com - Diabetes merupakan penyakit yang prevalensinya terus meningkat di Indonesia. Gaya hidup yang buruk dan kurang aktif merupakan salah satu penyebab mengapa penyakit ini kian banyak diderita. Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan pernah mengeluarkan data bahwa Indonesia menempati urutan nomor empat terbesar di dunia untuk jumlah penderita diabetes.

Luka bagi penderita diabetes merupakan hal yang menakutkan. Karena pada umumnya penderita diabetes jadi sulit untuk menyembuhkan luka yang ada di tubuhnya. Luka yang ada di tubuh penderita diabetes biasanya menyebabkan peradangan dan 85 persen dari luka meradang memiliki kecenderungan untuk diamputasi. Hal inilah yang menyebabkan menurunnya kualitas hidup penderita diabetes.

Ahli biokimia dari Queensland University of Technology Profesor Zee Upton mengatakan, penting bagi penderita diabetes untuk merawat dan mengelola luka dengan tepat. Pasalnya luka bagi penderita diabetes dapat berakibat fatal.

"Merawat dan mengelola luka dengan menggunakan ilmu pengetahuan mutakhir dapat membantu meningkatkan mutu hidup puluhan ribu pasien diabetes Indonesia," ujarnya dalam Seminar yang bertajuk 'Inovasi Pengelolaan Luka: Pengembangan teknologi, alat dan terapi dan aplikasi klinis' yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Rabu (20/2/2013).

Upton dalam kesempatan tersebut juga memperkenalkan teknologi terbaru berbasis bioteknologi untuk mengobati luka yang merupakan hasil penelitiannya bersama lebih dari 40 orang peneliti lain. Teknologi ini bernama VitroGro - ECM yang merupakan teknologi terapi penyembuhan luka inovatif yang melibatkan berbagai jenis disiplin ilmu antara lain biomedis, kimia, matematika, teknologi informasi, dan ilmu-ilmu klinis lainnya. Prinsip dari VitroGro - ECM yaitu teknologi matriks yang menstimulasi sel untuk tumbuh dan bermigrasi dengan lapisan beberapa jenis protein.

"Hasil dari percobaan klinis dari VitroGro- ECM pada luka yang sulit disembuhkan menunjukkan hasil yang menjanjikan yaitu luka tertutup dengan sempurna dengan bekas luka yang diminimalisasi," tutur Upton.

Luka kronis menimbulkan tantangan besar bagi sistem perawatan kesehatan untuk dapat disembuhkan. Menurut Upton, perawatan dengan metode konvensional membutuhkan biaya yang sangat besar. Oleh karenanya itu, dengan teknologi ini, Upton berharap metode pengelolaan luka menjadi lebih efektif dari segi biaya. "Selain itu, pasien pun akan lebih nyaman mengingat teknologi ini relatif tidak sakit di tubuh pasien," katanya.

Kendati teknologi ini cukup canggih untuk menutup luka, namun teknologi ini tidak dapat digunakan untuk menyembuhkan diabetes. "Teknologi ini hanya dapat dipergunakan untuk luka kronis, termasuk luka pada pasien diabetes," ungkap Upton.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.