Aktivitas Seni Bisa Perbaiki Fungsi Motorik Penyandang

Kompas.com - 12/04/2013, 02:54 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Aktivitas seni, selain bermanfaat untuk mengurangi stres, dapat memperbaiki fungsi motorik penyandang parkinson. Dukungan keluarga dibutuhkan agar penyandang tetap bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Hal itu dikatakan Ketua Yayasan Peduli Parkinson Indonesia yang juga dokter spesialis saraf, Banon Sukoandri, dalam temu media memperingati Hari Parkinson Sedunia 2013, Kamis (11/4), di Jakarta.

Parkinson adalah penyakit degeneratif saraf progresif yang disebabkan kematian sel substansia nigra yang mengandung dopamin, zat pembawa pesan antarsaraf. Penyandang parkinson menunjukkan gejala gemetar (tremor), kekakuan lingkup gerak sendi, mata jarang berkedip, dan ketidakstabilan postur tubuh. Parkinson biasanya terdeteksi pada usia 50-60 tahun.

Menurut Banon, kegiatan seni dapat memperbaiki kemampuan motorik halus penyandang parkinson karena bersifat subconscious (tanpa sadar). Beberapa kegiatan seni itu adalah melukis, membuat kerajinan tangan, dan membuat patung.

”Parkinson membuat penyandang kehilangan kemampuan membuat pilihan. Kegiatan seni seperti melukis dapat memperbaiki kemampuan itu,” katanya.

Kegiatan seni juga mengubah cara pandang dengan mengajarkan cara mengambil keputusan atau pilihan secara tidak langsung. Kegiatan seni yang melibatkan kelompok memberi kesempatan bagi penyandang untuk bersosialisasi dan menunjukkan ekspresi lebih bebas.

Banon mengatakan, dukungan keluarga sangat penting. ”Kegiatan seni yang dilakukan sendirian tentu tidak menyenangkan. Dengan keterlibatan dan dukungan keluarga, kualitas hidup penyandang parkinson bisa menjadi lebih baik,” kata Banon.

Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) dokter spesialis saraf Diatri Nari Lastri mengatakan, penyebab parkinson belum diketahui pasti. Saat ini diperkirakan 4 juta penduduk dunia mengidap parkinson. Di Indonesia belum diketahui jumlah pasti penyandang parkinson.

Menurut Diatri, parkinson masih sulit dideteksi karena gejala klinisnya kerap hilang timbul dan tidak jelas. Gejala yang paling sering muncul adalah tremor. Gejala lain adalah pelambatan gerak, mudah lelah, perubahan cara berjalan, kerap merasa cemas, dan depresi. (DOE)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.