Kompas.com - 04/07/2013, 06:26 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani
KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Dua pasien HIV tidak lagi meperlihatkan tanda-tanda virus mematikan itu dalam darah mereka, menyusul transplantasi sumsum tulang belakang yang mereka jalani. Informasi ini disampaikan oleh para peneliti dari Boston, Amerika Serikat yang menangani kedua pasien tersebut.

Namun, para ahli tak lagi menyebut kedua pasien telah sembuh, sekaligus menyatakan pengobatan tetap bukan pilihan untuk mayoritas pasien HIV/AIDS. Penemuan tersebut dipaparkan di konferensi International AIDS Society yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kedua pria, yang identitasnya tidak disebutkan, sebelumnya telah menjalani terapi pengobatan antiretroviral (ARV) selama bertahun-tahun, sampai kemudian mereka didiagnosis menderita kanker getah bening. Mereka berdua lalu menjalani kemoterapi intensif, yang kemudian diikuti dengan transplantasi sumsum tulang belakang untuk pengobatan kanker itu.

Selama kemoterapi dan setelah transplantasi, mereka tetap menjalani terapi ARV. Empat bulan setelah transplantasi, dokter masih menemukan jejak HIV di darah kedua pasien. Tetapi enam sampai sembilan bulan kemudian, tak ada lagi virus terdeteksi.

"Karena temuan tersebut, kami pikir dibenarkan untuk melepaskan mereka dari terapi (ARV) untuk melihat apa yang akan terjadi," kata Dr Timothy Henrich, yang melakukan uji klinis.

Namun, ujar Henrich, pada sebagian besar orang yang juga mengidap HIV, penghentian terapi ARV setelah sekian lama menjalaninya akan mendatangkan kembali virus itu dalam selang dua hingga empat pekan setelah terapi dihentikan.

Hanya beberapa pasien, lanjut Henrich, yang baru terjangkiti virus lagi setelah penghentian terapi ARV selama delapan pekan. Henrich adalah peneliti di Harvard Medical School, juga di Brigham dan Rumah Sakit Wanita di Boston.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber CNN.com
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.