Kompas.com - 04/07/2013, 16:12 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com -
Penyebab alergi tersering pada anak-anak adalah makanan. Gejalanya bisa muncul kapan saja dan penyebab terbesarnya biasanya adalah susu, makanan laut, telur, sampai kacang-kacangan.

Alergi pada dasarnya adalah suatu kumpulan gejala akibat reaksi berlebihan tubuh terhadap bahan dari luar. Alergi banyak dipengaruhi oleh faktor keturunan. Namun seringkali alergi makanan pada anak bukan murni akibat si kecil memakan makanan yang menyebabkannya alergi melainkan juga dipicu dengan keadaan infeksi.

Menurut pakar alergi anak dr. Widodo Judarwanto, SpA, kebanyakan orangtua masih sering mengabaikan infeksi sebagai pemicu alergi. Sebaliknya, orangtua hanya berfokus terhadap makanannya saja.

"Padahal bisa jadi anak hanya mengalami hipersensitifitas terhadap makanan karena sedang mengalami infeksi virus atau bakteri," jelasnya saat dihubungi Kompas.com, Kamis (4/7/2013).   

Widodo mengatakan, saat gejala alergi mulai timbul pada anak, seperti ruam merah dan gatal-gatal di kulit, kebanyakan orangtua langsung menilai anaknya alergi makanan tertentu. Padahal saat itu mungkin anaknya sedang demam, flu, dan gejala infeksi lainnya.

"Perlu dipastikan dulu, apakah benar itu alergi makanan atau hanya efek dari infeksi," tandas dokter yang berpraktek di Children Allergy Clinic, Rumah Sakit Bunda Jakarta ini.

Tes alergi dapat menjadi cara untuk memastikan alergi makanan. Salah satu jenis tes alergi yang dinilai Widodo paling sering dilakukan yaitu metode provokasi makanan secara buta atau double blind placebo control food challenge (DBPCFC).

Widodo mengatakan, DBPCFC merupakan standar baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Sebaiknya tes dilakukan saat anak dalam keadaan sehat, tidak mengalami flu atau demam, agar hasil yang diperoleh bisa akurat.

Di Indonesia angka kejadian alergi pada anak belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa ahli memperkirakan sekitar 25-40% anak pernah mengalami alergi makanan.

Di negara berkembang angka kejadian alergi yang dilaporkan masih rendah. Hal ini berkaitan dengan masih tingginya kesalahan diagnosis atau under diagnosis dan kurangnya perhatian terhadap alergi dibandingkan dengan penyakit infeksi saluran pernapasan atau diare yang dianggap lebih mematikan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.