Kompas.com - 20/08/2013, 09:23 WIB
|
EditorAsep Candra

Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi 4-7 gram minyak ikan sehari selama 6 bulan dapat menurunkan tekanan darah sistol hingga 4,5 mmHg dan tekanan darah diastol 2,2 mmHg. Minyak ikan dapat menurunkan risiko hipertensi hingga 35  persen.

Hipertensi, Belimbing, dan Buah Lainnya

Buah yang popular dipercaya berkhasiat untuk tekanan darah tinggi adalah belimbing. Rasa asam yang dimiliki belimbing dipercaya mampu menurunkan tekanan darah tinggi. Sayangnya, buah satu ini belum terbukti berkhasiat menurunkan tekanan darah tinggi. Belum ada penelitian yang menyatakan dan membuktikan khasiat tersebut.

Terkait buah-buahan, sejumlah peneliti pernah menguji manfaat buah dan jus buah untuk tekanan darah. Hasil penelitian menunjukkan konsumsi buah atau jus buah secara rutin memiliki khasiat menurunkan tekanan diastol sebesar 2 mmHg.

Kebiasaan mengonsumsi buah-buahan dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner hingga 7 persen. Kebiasaan mengonsumsi 8 porsi buah dan sayur dalam sehari dapat menurunkan risiko hipertensi hingga 15 persen. Buah-buahan banyak mengandung polifenol, zat antioksidan, dan asam folat yang baik untuk jantung dan pembuluh darah.

Hipertensi dan Mentimun

Mentimun juga telah lama dipercaya berkhasiat untuk darah tinggi. Namun faktanya, sama seperti belimbing, belum ada bukti ilmiah cukup kuat dalam bidang kedokteran yang menunjukkan khasiat tersebut.

Mentimun memang mengandung banyak zat bermanfaat, seperti kalium, kalsium, dan fosfor. Kandungan tersebut bersifat diuretik, yakni sifat yang membantu mengeluaran air dari dalam tubuh. Pada penderita hipertensi dan gagal jantung, sifat diuretik sangat menguntungkan. Semakin banyak air yang keluar dari tubuh tekanan darah akan turun dan beban kerja jantung akan berkurang. Namun apakah khasiat diuretik pada mentimun mampu secara signifikan menurunkan tekanan darah, belum ada bukti ilmiah.

Hipertensi dan Produk Herbal Instan

Selain tanaman herbal di atas, saat ini banyak ditemui produk-produk instan obat herbal. Yang paling terkenal ialah obat-obatan herbal dari negeri Cina. Beberapa ditemui dalam sediaan bubuk, serbuk dalam kemasan puyer, atau pil. Ada juga dalam bentuk cairan minuman langsung atau jamu-jamuan. Promosi yang dilakukan amat gencar. Khasiat yang ditawarkan sangat menjanjikan.

Data menunjukkan sekitar 75 persen penduduk dunia pernah menggunakan obat-obatan herbal untuk mengobati penyakit. Obat-obatan herbal dipercaya lebih efektif, lebih murah, dan lebih sedikit efek sampingnya.

Namun seperti yang diutarakan di atas, hanya sedikit obat herbal yang terbukti benar-benar memiliki khasiat. Sisanya, tidak mendatangkan khasiat. Waktu dan biaya terbuang untuk mencoba pengobatan yang tidak berkhasiat. Lebih parahnya lagi, beberapa obat herbal malah memiliki efek memperburuk penyakit. Tekanan darah malah semakin tidak terkontrol dengan produk-produk herbal.

Fenomena produk obat herbal memang sangat mengkhawatirkan dunia kesehatan kita. Seringkali ilmu kedokteran kalau saing dengan janji-janji khasiat obat herbal. Namun Anda sebagai konsumen yang bijak setidaknya saat ini mengerti bahwa yang disebut “obat” ialah obat yang diresepkan oleh tenaga medis, bukan salesman, dukun, ‘orang pintar’, iklan selembaran, iklan di televisi, dan sebagainya. Pastikan obat yang Anda konsunsi ialah obat yang Anda tahu benar telah terbukti berkhasiat dan melalui penelitian ilmiah. (@drfelixchikita)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Kompasiana
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.