Kompas.com - 04/09/2013, 13:53 WIB
|
EditorAsep Candra


KOMPAS.com -
Upaya pencegahan diabetes mellitus (DM), baik dengan promotif maupun preventif ternyata dapat memotong biaya kesehatan hingga 30 persen. Anggaran ini bisa digunakan untuk memperluas dan menggalakkan kegiatan preventif DM di seluruh Indonesia.

Hal ini dikatakan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI), Prof. Hasbullah Thabrany, pada  acara laporan Program Blueprint for Change  Selasa (3/9) di Jakarta.

"Beban biaya yang dikeluarkan untuk DM setiap tahunnya sekitar Rp 5 triliun sampai  Rp 8 triliun rupiah. Kalau bisa menghemat sampai 30 persen tentu lebih baik," ujarnya.

Perkiraan biaya yang timbul setiap tahun tersebut, lanjut Thabrany, baru meliputi biaya langsung. Belum memperhitungkan biaya yang tidak langsung akibat diabtes seperti kehilangan kesempatan belajar dan bekerja.  

Direktur Pelayanan PT. ASKES, Fajriadi Nur menambahkan, pencegahan diabetes sebaiknya tidak hanya sebatas edukasi kepada orang sehat supaya tidak sakit. Tapi juga meliputi bagaimana supaya pasien yang sudah sakit diabetes tidak mengalami komplikasi.

"Kalau sampai komplikasi biaya bisa membengkak sampai 20 kali lipat. Padahal biaya pengobatan DM tanpa komplikasi sudah mencapai Rp 600 ribu sampai Rp 1 juta rupiah sebulan," katanya.

PT. ASKES, lanjut Fajriadi, paling banyak menanggung hingga Rp 10-15 juta rupiah biaya pengobatan DM dengan komplikasi setiap bulannya kepada para peserta.

Ia menjelaskan, nilai total biaya perawatan yang dikeluarkan ASKES untuk para pesertanya yang mengalami DM masuk dalam kategori empat besar. Bersama dengan DM,  ada penyakit jantung, gagal ginjal terminal, kanker, dan hipertensi.

Pada 2012 total biaya rawat jalan yang ditanggung PT. ASKES adalah Rp. 253.347.351.569 untuk pengobatan, dan Rp. 103.113.249.659 untuk selain pengobatan. Sementara untuk rawat inap biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 40.192.886.042 untuk pengobatan, dan Rp. 114.705.057.013 untuk selain pengobatan.

Sayangnya, upaya pencegahan belum menjadi opsi kebanyakan masyarakat. Hal ini terlihat pada jumlah peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang dikelola PT. ASKES bekerja sama dengan antara lain PB-PERKENI, IDI, dan dokter layanan primer, yang hanya mencapai 96.897 orang pada 2012.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.