Kompas.com - 21/12/2013, 13:24 WIB
Penulis Wardah Fajri
|
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com - Terlepas dari masih rendahnya angka cakupan ASI di Indonesia (Riskesdas 2013), juga terbatasnya pengetahuan menyusui di kalangan ibu, kini semakin banyak ibu bekerja di perkotaan yang menyusui dan mereka cenderung lebih percaya diri. Berbagai masalah psikologis yang menyulitkan ibu menyusui pun mulai teratasi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Farahdibha Tenrilemba Djafar mengakui ibu bekerja menyusui cenderung naik. Tren peningkatan ibu bekerja menyusui ini, kata Farahdibha, terjadi tiga tahun terakhir.

"Semakin banyak ibu bekerja yang percaya diri menyusui. Saya tidak memiliki data pasti atau survei mengenai hal ini. Namun, banyak yang sharing di kelas AIMI. Kelas edukasi AIMI menjadi indikatornya. Kelas AIMI sendiri sudah berjalan 4-5 tahun di lebih dari 30 kota di Indonesia, dan 2-3 tahun terakhir banyak ibu yang sadar menyusui," ungkapnya saat dihubungi Kompas Health, Rabu (18/12/2013).

Dukungan tempat kerja
Menurutnya dukungan terhadap ibu bekerja semakin bertambah. Perusahaan juga mulai memfasilitasi ibu bekerja untuk tetap bisa menyusui atau memerah ASI. Dukungan dari tempatnya bekerja membuat ibu lebih leluasa menyusui dan memerah ASI.

Bentuk dukungan terhadap ibu bekerja dalam menyusui beragam. Ada perusahaan yang mendirikan daycare sehingga saat waktunya menyusui, ibu bekerja bisa menemui anaknya di daycare untuk memberi ASI. Fasilitas menyusui di tempat bekerja menjadi bentuk dukungan lainnya. Kesempatan untuk memerah ASI di jalan kerja, juga merupakan dukungan yang berarti untuk ibu bekerja.

Tren menyusui di kalangan ibu bekerja ini, memang masih sebatas di perkotaan. Umumnya pekerja di perkantoran swasta dan pemerintah, berusia antara 25 hingga 40.

Mencari informasi
Konselor Laktasi yang akrab disapa Diba ini juga mengatakan ketersediaan informasi mengenai menyusui turut mendukung peningkatan tren ibu bekerja menyusui ini.

"Dua tiga tahun terakhir banyak informasi mengenai menyusui yang bisa didapatkan dengan mudah melalui smartphone. Buku juga mulai banyak. Ibu yang tadinya tidak percaya diri menjadi bisa menyusui karena mencari tahu," terangnya.

Menurutnya, bagi ibu yang belum bisa menyusui, persoalannya lebih kepada ketidaktahuan dan tidak mau mencari tahu. Padahal, perubahan informasi mengenai menyusui terus berubah. Perubahan informasi inilah yang perlu ibu cari tahu.

"Perubahan informasi drastis. Misalnya, dulu MPASI sudah diberikan saat bayi empat bulan. Dulu, IMD juga belum terlalu banyak informasinya dibandingkan sekarang. Banyak ibu yang dulunya menyusui, juga tetap merasa perlu ikut kelas edukasi karena zamannya berbeda," tutur Diba.

Halaman:

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.