Kompas.com - 20/01/2014, 09:24 WIB
|
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com - Konsumsi fast food atau makanan cepat saji kerap dijadikan kambing hitam dari epidemi kelebihan berat badan dan obesitas pada anak-anak. Namun sebuah studi baru menemukan, buruknya pola makan sepanjang hari berhubungan dengan permasalahan berat badan anak. 

Peneliti studi Jennifer Poti, kandidat doktor bidang epidemiologi nutrisi di University of North California, Chapel Hill mengatakan, mengurangi fast food memang penting untuk meningkatkan kualitas diet. Namun selain itu dibutuhkan pula perhatian bagi diet secara keseluruhan. Menurut dia, anak-anak yang dilibatkan dalam studi cenderung memiliki pola makan yang tidak sehat sepanjang hari.

Studi yang dipublikasi dalam Journal of Clinical Nutrition tersebut didukung oleh Robert Wood Johnson Foundation dan National Institutes of Health Amerika Serikat. Meski begitu, tak ada industri fast food apapun yang dilibatkan dalam studi. Connie Diekman, direktur nutrisi di Washington University di St Loise mengatakan, studi ini menunjukkan pentingnya edukasi nutrisi yang lebih baik.

"Faktanya anak-anak dan remaja yang terbiasa makan fast food cenderung untuk makan makanan yang kurang bernutrisi di luar itu.  Maka edukasi tentang nutrisi penting mereka dapatkan," ujarnya yang tidak terlibat dalam studi.

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisa data dari sebuah survei dari National Health pada 2007 hingga 2010 yang melibatkan 4.500 anak berusia 2-18 tahun. Orangtua mereka menggambarkan apa yang mereka makan dan minum dalam 24 jam.

Para peneliti menemukan, setengah dari peserta studi makan fast food. Hampir 40 persen dari peserta makan 30 persen dari kalori total yang mereka butuhkan dari fast food. 

Hubungan paling kuat yang ditemukan para peneliti antara pola makan dan permasalahan berat badan tidak semata-mata berasal dari fast food, melainkan pola makan secara keseluruhan. Selain itu adapula faktor kurangnya aktivitas fisik.

"Kendati demikian, fast food masih merupakan faktor penting yang berhubungan dengan kualitas pola makan yang buruk dan kelebihan berat badan serta obesitas. Ketika kita ingin memperbaiki kualitas pola makan anak, tentu harus diperhatikan juga pemilihan makanan yang lebih baik," jelas Poti.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.