Studi Kasus Bedah Plastik, Para Ahli Manfaatkan "Video Call"

Kompas.com - 25/01/2014, 11:04 WIB
ilustrasi shutterstockilustrasi
|
EditorWardah Fajri
SURABAYA, KOMPAS.COM - Banyak kalangan memanfaatkan teknologi video call untuk berbagai kebutuhan. Tak hanya untuk berbagi kabar tetapi juga ilmu, seperti yang dilakukan oleh para dokter spesialis bedah plastik di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/Rumah Sakit Dr Soetomo dengan Fakultas Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah. Mereka melakukan video call untuk berbagi ilmu dan studi kasus bedah plastik rekonstruksi dan estetik.

"Hampir setiap Jumat kami sudah rutin melakukan video call untuk saling melaporkan kasus yang ditangani selama seminggu terakhir," ujar Guru Besar di bidang bedah plastik rekonstruksi dan estetik M Sjafuddin Noer saat ditemui dalam sesi video call rutin tersebut, di Surabaya, Jumat (24/1/2014).

Sesi video call tersebut juga dihadiri oleh Guru Besar asal FK UNAIR/RS Dr Soetomo lainnya seperti David S Perdanakusuma dan Djohansyah Marzuki dan para dokter yang tengah menempuh pendidikan dokter di sana. Sementara di Bali, sesi video call dihadiri oleh spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetika antara lain Nyoman Sumadi dan Ni Ketut Kaamarini.

Menurut Sjafuddin, cara seperti video call cukup efektif untuk memberikan pendidikan pada para calon spesialis maupun siapapun yang berkecimpung dalam bidang bedah plastik rekonstruksi dan estetika. Pasalnya peserta forum akan mengetahui kasus dari kedua tempat serta dapat berdiskusi langsung cara penanganan masing-masing kasus.

"Jika penanganannya kurang tepat akan dibahas dalam forum bagaimana yang seharusnya. Sementara jika sudah tepat akan diberi apresiasi dalam forum juga," jelasnya.

Sementara itu, David menerangkan FK UNAIR adalah salah satu pusat pendidikan kedokteran spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetika, selain Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dengan tujuan memperbanyak pusat pendidikan, FK UNAIR bertanggung jawab untuk membina FK Udayana, sedangkan FKUI bertanggung jawab untuk membina Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. 

"Itulah mengapa kami melakukan video call dengan FK Udayana. Namun sebenarnya kami juga membina untuk FK Universitas Brawijaya di Malang, dan FKUI juga membina FK Universitas Sumatera Utara, tapi saat ini masih difokuskan untuk FK Udayana dan FK Unpad," papar David.

Bertambahnya pusat pendidikan spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik bukan tanpa alasan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis di bidang tersebut yang jumlahnya sangat kurang. Menurut David, jumlah dokter yang ideal di bidang tersebut di Indonesia rasionya 1:1.000.000. Sementara sekarang rasionya masih sekitar 1:2.000.000.

"Untuk mencukupi kebutuhan 250 juta penduduk paling tidak harus ada 250 dokter bedah plastik, tapi saat ini masih sekitar 120 dokter," kata dia.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X