Kompas.com - 11/02/2014, 07:01 WIB
shutterstock
|
EditorAsep Candra


KOMPAS.com -
Tak sedikit pasangan suami istri yang memilih menggunakan pelumas saat bercinta untuk menambah kenikmatan seksual. Namun jika tengah merencanakan kehamilan, penggunaan pelumas perlu dibatasi atau bahkan tidak digunakan sama sekali.

Sebuah studi yang baru-baru ini dipublikasi dalam jurnal Fertility and Sterility menemukan, pelumas dapat mengurangi kecepatan mobilitas sperma. Kondisi tersebut tentu menyulitkan sperma untuk dapat bergerak cepat menuju sel telur, sehingga kemungkinan hamil pun akan menurun.

Dalam studi tersebut, para peneliti melakukan percobaan untuk mengetahui efek sembilan merek pelumas pada kecepatan bergerak sperma. Hasilnya, sebagian besar pelumas dapat mengurangi kecepatan sperma secara signifikan. Bahkan salah satu merek pelumas dapat menurunkan kecepatan sperma hingga setengahnya.

Menurut penulis studi yang sekaligus profesor patologi kebidanan dan kandungan di SUNY Upstate Medical University Kazim Chohan mengatakan, kebanyakan pelumas diciptakan untuk meningkatkan kepuasan seksual sehingga ada kemungkinan mengandung senyawa yang membunuh sperma.

Sementara itu, peneliti menemukan pelumas yang berbasis minyak paling sedikit mempengaruhi sperma. Ini mungkin dikarenakan minyak tidak memiliki komponen pembunuh sperma tersebut.

Chohan mengatakan, pelumas minyak mungkin dapat membunuh sperma yang berkualitas lemah, namun sperma yang berkualitas baik akan mampu betahan dan tetap bergerak. Yang menarik, pelumas minyak justru membuat sperma lebih aktif, meskipun diperlukan penelitian lebih lanjut kemampuannya untuk menyukseskan kehamilan.

Namun jangan dikira pelumas minyak tidak memiliki risiko, sehingga bebas saja menggunakan minyak sayur sebagai pelumas. Menurut Ava Cadell, penulis buku NeuroLoveology, pelumas berbasis minyak dapat mengubah keseimbangan pH pada vagina sehingga berpotensi meningkatkan risiko infeksi.

Bahkan, penelitian sebelumnya menemukan, minyak mineral dapat mengurangi kekuatan kondom lateks hingga 90 persen. Akibatnya, kondom pun rentan bocor sehingga risiko penularan penyakit atau kehamilan yang tidak direncanakan akan meningkat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Lanjut

Health
Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Bagaimana Pengobatan Rumahan Saraf Kejepit?

Health
Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Ciri-ciri Kanker Usus Besar Tahap Awal

Health
10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

10 Gejala Kanker Usus Stadium Awal yang Pantang Disepelekan

Health
Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Seberapa Mengerikan Penyakit Diabetes?

Health
Sindrom Steven-Johnson

Sindrom Steven-Johnson

Penyakit
Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Kenali 4 Faktor Risiko Leukimia

Health
Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Apa Manfaat dan Efek Samping Suntik Vitamin C?

Health
Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Bagaimana Cara Hadapi Orang Bertendensi Bunuh Diri?

Health
Apa Penyebab Kulit Kering?

Apa Penyebab Kulit Kering?

Health
4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

4 Cara Mudah Mengatasi Sembelit

Health
8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

8 Cara Mengatasi Sakit Kepala saat Kepanasan

Health
Sindrom Asperger

Sindrom Asperger

Penyakit
Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Seberapa Sering Normalnya Kita Harus Buang Air Besar?

Health
Gagal Ginjal

Gagal Ginjal

Penyakit
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.