Kompas.com - 08/05/2014, 16:57 WIB
|
EditorLusia Kus Anna
 

KOMPAS.com -
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah sesuatu yang tidak boleh kita abaikan. Apalagi penyakit ini sekarang menjadi penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Walau PJK lebih banyak diderita orang berusia lanjut, tapi faktanya kini semakin banyak orang berusia produktif yang terkena serangan jantung.

Penyakit jantung tidak terjadi dalam semalam. Menurut dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Taufik Pohan, perkembangan penyakit jantung pada orang yang masih muda disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat dan stres.

Kabar baiknya, perkembangan penyakit ini bisa diperlambat, bahkan bisa dihilangkan jika kita melakukan deteksi sejak dini. Pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mengetahui faktor risiko seperti kadar kolesterol dan tekanan darah sangatlah penting.

 
"Memahami risiko penyakit jantung perlu dilakukan untuk mencegah keterlambatan penanganan," tegasnya dalam konferensi pers di rumah sakit Pondok Indah Jakarta, Kamis (8/5/2014).
 
Pada orang yang memiliki faktor risiko tinggi, misalnya kegemukan, menderita diabetes, atau ada riwayat penyakit jantung dalam keluarga, diperlukan tes khusus untuk mendeteksi penyakit. Salah satunya adalah melakukan pemindaian dengan CT scan.

Melalui pemindaian tersebut, dapat diketahui kesehatan pembuluh darah arteri yang menentukan risiko penyakit jantung. Parameter yang dipakai adalah sumbatan pada pembuluh darah arteri. Semakin banyak dan tebal penutupan pembuluh darah, maka semakin tinggi risikonya.

 
Taufik mengatakan, pemeriksaan kondisi jantung selama ini baru dilakukan di usia lebih dari 50 tahun. Padahal, pemeriksaan yang dilakukan di usia tersebut mungkin sudah terlambat karena risiko PJK sebenarnya telah dimulai sejak usia muda.
 
Semakin dini mengetahui risiko tersebut, kata Taufik, semakin mungkin penyakit ini dicegah lebih awal. "Misalnya dengan memperbaiki pola hidup sejak muda, dampaknya akan lebih baik daripada memperbaiki di usia tua," katanya.
 
Taufik menambahkan, dari 100 orang yang memiliki risiko PJK, hanya 60 persen yang menunjukkan gejala khas seperti kerap nyeri dada atau cepat lelah. Sementara 20 persennya langsung mengalami kematian jantung mendadak tanpa gejala. Dan 20 persen lainnya, menunjukkan gejala semu sehingga kerap disangka penyakit lain.
 
"Misalnya pasien yang 20 persen itu mengalami nyeri lambung sehingga sering dikira masalah pencernaan, padahal masalah utama ada pada jantungnya," kata Taufik.
 
Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, tidak berolahraga, dan makan tidak sehat, serta stres, risiko PJK juga meningkat karena faktor jenis kelamin dan riwayat keluarga. Risiko-risiko tersebut sama-sama meningkatkan kemungkinan penumpukan plak di arteri yang akan menimbulkan sumbatan.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.