Kompas.com - 12/06/2014, 07:17 WIB
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com
— Sedang sakit kepala sering menjadi alasan banyak orang untuk menghindari hubungan seksual dengan pasangannya. Tetapi, berhati-hatilah jika Anda mengalami nyeri kepala hebat setelah bercinta, terutama pada pria.

Sekitar satu persen orang diperkirakan pernah mengalami sakit kepala selama atau setelah berhubungan seksual. Kondisi tersebut disebut juga dengan orgasmic cephalagia. Paling tidak hal ini dialami seseorang satu kali dalam hidupnya, meski mungkin angka sebenarnya lebih tinggi.

Menurut Dr Jose Biller, pakar neurologi dan nyeri kepala, sebenarnya sakit kepala setelah bercinta bisa jadi merupakan pertanda adanya gangguan kesehatan yang tersembunyi.

"Sakit kepala akibat seks biasanya disebabkan oleh penyakit migrain atau sakit kepala tipe ketegangan. Kebanyakan memang tidak berbahaya," katanya.

Pria ternyata berisiko tiga hingga empat kali lebih tinggi mengalami sakit kepala yang disebabkan oleh aktivitas seksual (HAS).

Namun, ia mengatakan, pada persentase yang kecil, sakit kepala akibat seks bisa juga disebabkan oleh perdarahan otak, aneurisma (pelebaran abnormal pembuluh darah otak), atau bahkan stroke.

"Kebanyakan orang yang mengalami nyeri kepala setelah bercinta merasa malu untuk memeriksakan diri ke dokter. Nyeri kepala ini bisa sangat menyakitkan dan juga membuat frustrasi," katanya.

Nyeri HAS bisa ringan, tetapi bisa juga berat. Kondisi ini dipicu oleh kebocoran cairan tulang belakang (spinal fluid) dari bagian tengkorak ke tulang belakang. Nyeri kepala akan bertambah hebat jika kita berdiri karena otak mengarah ke bawah.

Selain itu, jenis sakit kepala lain yang juga bisa dipicu oleh aktivitas seksual adalah sakit kepala "halilintar". Ini merupakan nyeri kepala yang terjadi selama orgasme dan nyerinya bisa dirasakan sampai satu jam kemudian. Disebut halilintar karena rasa sakitnya membuat Anda kaget seperti halnya petir.

Biller mengatakan, kita bisa mengurangi risiko mengalami sakit kepala tersebut dengan menjaga berat badan tidak berlebihan atau membatasi asupan minuman beralkohol. Beberapa obat-obatan juga bisa dipakai untuk mengurangi rasa nyeri kepala.

"Namun, jika nyeri kepala ini terjadi, segera lakukan pemeriksaan saraf untuk mengetahui penyebab lain yang tersembunyi," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber Dailymail
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.