Kompas.com - 01/04/2015, 15:13 WIB
EditorLusia Kus Anna

KARANGANYAR, KOMPAS — Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menyatakan, pemerintah mendorong dan mendukung saintifikasi jamu. Itu sebagai upaya melestarikan dan membudayakan jamu dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk melindungi jamu tradisional dan jamu hasil riset modern, Puan meminta jamu segera dilindungi. Pihaknya akan bekerja sama dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk memproses paten jamu secara cepat. "Jangan sampai ada (negara lain) yang mengklaim, jangan sampai dipaten mereka," kata Puan saat meluncurkan lima jamu saintifik hasil riset Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (31/3).

Lima jamu saintifik yang diluncurkan adalah jamu hermorhoid guna mengobati penyakit wasir, jamu untuk dispepsia (nyeri lambung), jamu untuk osteoartritis (nyeri sendi), hipertensi ringan, dan jamu untuk hiperurisemia (kadar asam urat tinggi). Puan minta jamu saintifik hasil riset itu dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan umum sesuai Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional.

Jamu merupakan warisan budaya bangsa. Karena itu, kata Puan, semua elemen, baik pemerintah, akademisi, dunia usaha, maupun komunitas masyarakat, diharapkan selalu mempromosikan jamu sebagai tradisi dan budaya kesehatan bangsa.

Puan menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Menteri Pertanian agar fokus mengembangkan pertanian tanaman obat. Pengembangan jamu akan membantu petani tanaman obat. Tanaman obat juga memiliki potensi ekspor besar.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, penelitian jamu saintifik di B2P2TOOT Tawangmangu dilakukan sangat ilmiah, dari proses meneliti tanaman di laboratorium hingga uji klinis. Jamu saintifik campuran beberapa tanaman misalnya jamu hipertensi campuran daun kumis kucing, pegagan, dan seledri.

Selama ini, masyarakat tahu khasiat jamu berdasarkan pengalaman empiris. Menurut penelitian sosiologi kesehatan 2010, 59,84 persen orang Indonesia mengonsumsi jamu. (RWN)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.