Cegah Keterbelakangan Mental, Bayi Baru Lahir Harus Cek Tiroid

Kompas.com - 27/05/2015, 09:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna


JAKARTA, KOMPAS.com
– Kekurangan hormon tiroid bisa menyebabkan anak tidak tumbuh dengan baik dan mengalami keterbelakangan mental atau mengalami hipotiroid kongenital. Untungnya, hal ini bisa dicegah jika dilakukan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK).

Dokter Spesialis Penyakit Dalam-Konsultan Endokrin dan Metabolik Diabetes Achmad Rudijanto mengungkapkan, SHK harus dilakukan pada bayi berusia 3-5 hari. Pada usia tersebut, kadar tiroid bayi sudah tidak bercampur dengan tiroid ibu.

 Jangan tunggu gejala muncul. Jika bayi hipotiroid dan terlambat ditangani, maka akan menyebabkan keterbelakangan mental yang permanen.

"Kalau segera dideteksi, setelah lahir bisa diberi hormon tiroid. Itu masih bisa menyelematkan otak bayi yang sejak dalam kandungan agak terganggu. Kalau lewat, perkembangan otaknya sudah menetap begitu, tidak bisa kembali lagi,” ujar Rudi dalam acara Pekan Kesadaran Tiroid Internasional di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (26/5/2015).

Hormon tiroid berfungsi mengatur metabolisme tubuh manusia. Jika mengalami kekurangan, maka memengaruhi fungsi seluruh jaringan dan organ tubuh.

Dampak kekurangan hormon tiroid bisa dialami bayi sejak dalam kandungan karena sang ibu pun mengalami kekurangan hormon tiroid. Kekurangan hormon tiroid pada ibu hamil salah satunya karena ibu kurang konsumsi iodium. Sayangnya, belum banyak ibu yang menyadari pentingnya SHK.

Untuk itu, bertepatan dengan Pekan Kesadaran Tiroid Internasional pada 25-31 Mei 2015, Merck Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI melakukan kampanye bertajuk “Bebaskan Dirimu dari Gangguan Tiroid”.  Kampanye ini untuk mendorong kesadaran masyarakat mengenai pentingnya melakukan SHK pada bayi baru lahir.

Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan Elizabeth Jane Soepardi mengatakan, pemerintah juga sudah memiliki program SHK. Sayangnya, program SHK baru dilakukan di 14 provinsi di Indonesia atau belum merata. Di luar program pemerintah, biaya SHK pun cukup terjangkau yaitu sekitar Rp 48.500. SHK dilakukan dengan tes darah yang diambil dari bagian tumit bayi.

"Kalau ketahuan hipotiroid , langsung minum obat. Ada yang seumur hidup dan sementara,” kata Jane.

Cakupan SHK di Indonesia terbilang masih sangat rendah jika dibanding negara lain seperti Tiongkok (54 persen), Filipina (50 persen), Vietnam (24 persen), dan Srilanka (80-90 persen).

Diperkirakan lebih dari 1,7 juta orang di Indonesia berpotensi mengalami gangguan tiroid dengan rasio kasus HK 1:2736. Bila tidak dilakukan intervensi, diperkirakan 16-26 tahun mendatang sekitar 24 ribu-39 ribu penduduk Indonesia berpotensi menyandang keterbelakangan mental.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X