Sabtu, 22 September 2018

Health

Praktik Manipulasi Leher Sudah Dilarang di AS sejak 1956

Thinkstockphotos Ilustrasi
KOMPAS.com — Manipulasi berlebihan di bagian leher diduga menjadi penyebab kematian Allya Siska, pasien chiropractic yang meninggal di Klinik Chiropractic First, Pondok Indah, Jakarta. Padahal, di Amerika Serikat, praktik manipulasi leher sudah dilarang sejak tahun 1956.

"Manipulasi leher ini dapat dilakukan diri sendiri atau oleh orang lain lewat pijat dan praktik pengobatan tertentu," terang Dr Andreas Harry, SpS(K).

Menurut dia, tidak ada yang salah dengan pengobatan chiropractic. "Ini adalah sebuah teknik yang pelakunya dibutuhkan kompetensi," ujarnya.

Asosiasi chiropractic di Amerika sendiri sudah menyadari risiko stroke akibat manipulasi leher ini. Bahaya dari praktik manipulasi ini adalah pembuluh darah yang pecah.

"Memang tidak selalu menyebabkan pecah pembuluh darah, tetapi ada orang-orang tertentu yang memiliki pembuluh darah yang lemah. Manipulasi dengan menggerakkan leher dapat membuat pembuluh pecah. Darah kemudian merembes keluar. Gumpalan darah ini kemudian masuk ke otak dan menyebabkan penyumbatan di otak. Sebenarnya ini sebuah serangan stroke," kata dokter ahli saraf dari RS Gading Pluit, Jakarta, ini.

Ketika hal seperti ini terjadi, pasien harus segera mendapatkan pengobatan untuk mengatasi sumbatan. "Ada golden period dalam pengobatan stroke. Lewat dari masa emas itu, pasien dapat mengalami kecacatan atau meninggal dunia," katanya. Golden period untuk stroke adalah tiga jam.

Kompas TV Mengenal Metode Chiropractic


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Kontributor Health, Dhorothea
Editor : Lusia Kus Anna