Kompas.com - 08/03/2016, 08:09 WIB
|
EditorLusia Kus Anna
KOMPAS.com — Petenis papan atas dunia, Maria Sharapova, gagal dalam tes doping di Australia Terbuka, Januari lalu. Petenis berusia 28 tahun itu positif mengonsumsi meldonium.

“Saya gagal dalam tes doping dan siap bertanggung jawab sepenuhnya,” kata Sharapova, Senin (7/3/2016) malam, seperti dilansirBBC.

Sharapova mengatakan, ia secara legal mengonsumsi meldonium sejak 10 tahun lalu. Obat itu memang baru masuk dalam doping terlarang oleh International Tennis Federation (ITF) sejak 1 Januari 2016.

Menurut penjelasan Dr Peter Brukner, dokter olahraga dari La Trobe University Australia, meldonium adalah obat anti-iskemik yang membantu meningkatkan sirkulasi, terutama di bagian otak. Obat ini lebih populer di negara-negara bekas Soviet.

"Meldonium juga dipakai untuk mengatasi masalah pada jantung seperti angina (saat ada aliran darah terhambat ke jantung), serangan jantung, gagal jantung, dan juga setelah stroke," kata Brukner seperti dikutip ABC News.

Sharapova mengenal meldonium sebagai obat anti-nyeri mildronate buatan Lativia. Obat ini memang tidak beredar di Amerika Serikat karena tidak mendapat persetujuan dari Food and Drug Administration.

Menurut Sharapova, ia mengonsumsi mildronate karena memiliki beberapa masalah kesehatan. "Saya gampang sakit karena kekurangan magnesium, saja juga memiliki irama jantung tak teratur, dan memiliki riwayat diabetes dalam keluarga," katanya.

Walau meldonium awalnya dipakai untuk mengobati gangguan jantung, tetapi dalam satu penelitian pada hewan diketahui bahwa obat ini mempunyai efek antidiabetes pada metabolisme tikus.

Namun, karena meldonium memiliki efek metabolik, World Anti-Doping Agency (WADA) mengelompokkan obat ini sebagai metabolik modulator. Obat ini masuk dalam kategori terlarang seperti insulin yang juga bisa dipakai untuk meningkatkan performa atlet.

Hasil penelitian yang dipublikasikan pada Desember 2015 menyebutkan, meldonium menunjukkan peningkatan performa ketahanan atlet, meningkatkan rehabilitasi setelah olahraga, melawan stres, dan meningkatkan aktivasi fungsi sistem saraf pusat.

Pada akhirnya, WADA melarang obat ini efektif pada awal Januari 2016.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.