Kompas.com - 08/04/2016, 09:00 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com – Terlalu banyak konsumsi garam memang bisa  menyebabkan hipertensi atau tekanan darah tinggi. Namun, bukan berarti garam menjadi musuh besar bagi tubuh.

Garam diperlukan manusia untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Pakar nutrisi Emilia Achmadi mengatakan, garam bahkan sering digunakan para atlet untuk mencegah atau mengatasi kram.

“Kalau ada atlet kram, itu kandungan garamnya kurang. Saat olahraga itu kan dia berkeringat terus,” kata Emilia dalam acara peluncuran minuman Nu Oceana di Jakarta, Rabu (6/4/2016).

Untuk itu, Emilia tak pernah menganjurkan seseorang melakukan diet garam dengan berpantang makanan bergaram sama sekali.

Kebanyakan konsumsi garam memang bisa memicu sakit jantung akibat hipertensi. Akan tetapi, kekurangan garam pun bisa menyebabkan penyakit jantung. Kurangnya garam dalam tubuh membuat keseimbangan cairan dalam tubuh terganggu.

“Kalau diet garam yang pertama jadi korban adalah jantung. Jantung juga bisa kram,” ujar Emilia.

Pada ibu hamil, kekurangan iodium dalam garam bisa menyebabkan bayi yang dikandung kekurangan hormon tiroid. Hormon tiroid dibutuhkan untuk metabolisme tubuh dan perkembangan otak bayi.

Emilia mengungkapkan, konsumsi garam yang menyebabkan penyakit jika dalam jumlah yang tidak tepat. Bisa karena terlalu banyak maupun terlalu sedikit garam.  Asupan garam dalam tubuh yang dianjurkan hanya 1 sendok teh atau sekitar 2000 miligram natrium/sodium.

“Kesalahan kita itu konsumsi garam yang salah dalam jumlah yang salah,” kata Emilia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bagaimana Cara Menyusui Bayi?

Bagaimana Cara Menyusui Bayi?

Health
Manfaat Pemberian ASI Bagi Bayi dan Ibu

Manfaat Pemberian ASI Bagi Bayi dan Ibu

Health
7 Manfaat Vitamin B Kompleks untuk Kesehatan

7 Manfaat Vitamin B Kompleks untuk Kesehatan

Health
12 Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Mengatasinya

12 Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Mengatasinya

Health
Apa yang Perlu Diketahui dari Kasus Hepatitis Misterius pada Anak?

Apa yang Perlu Diketahui dari Kasus Hepatitis Misterius pada Anak?

Health
Bagaimana Mencegah Penularan Cacar Monyet?

Bagaimana Mencegah Penularan Cacar Monyet?

Health
Cara Mengurangi Risiko Kanker Ovarium

Cara Mengurangi Risiko Kanker Ovarium

Health
Jangan Sampai Kecolongan, Gejala Kanker Usus Bisa Dilihat dari Feses

Jangan Sampai Kecolongan, Gejala Kanker Usus Bisa Dilihat dari Feses

Health
Tips untuk Menjaga Kesehatan Usus

Tips untuk Menjaga Kesehatan Usus

Health
7 Gejala Kanker Usus dan Penyebabnya

7 Gejala Kanker Usus dan Penyebabnya

Health
6 Faktor Risiko Kanker Ovarium

6 Faktor Risiko Kanker Ovarium

Health
5 Masalah Payudara Ibu Menyusui dan Cara Mengatasinya

5 Masalah Payudara Ibu Menyusui dan Cara Mengatasinya

Health
Panduan Singkat untuk Perawatan Bayi Baru Lahir

Panduan Singkat untuk Perawatan Bayi Baru Lahir

Health
6 Cara Mencegah Kanker Usus yang Penting Dilakukan

6 Cara Mencegah Kanker Usus yang Penting Dilakukan

Health
8 Penyebab BAB Keras dan Cara Mengatasinya

8 Penyebab BAB Keras dan Cara Mengatasinya

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.