Kompas.com - 02/08/2016, 18:15 WIB
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com- Perempuan yang melakukan douching atau atau mencuci leher vagina dengan memasukkan sebuah alat dan menyemprotkan cairan pembersih demi mengurangi jamur, hampir dua kali lipat berisiko terkena kanker ovarium, hasil sebuah studi nasional di Amerika menunjukkan.

Penelitian sebelumnya telah menghubungkan douching dengan penyakit radang panggul dan kehamilan ektopik. Para peneliti juga menemukan hubungan antara douching dan kanker serviks, mengurangi kesuburan, HIV dan penyakit menular seksual lainnya.

Tetapi studi baru National Institute of Environmental Health Sciences ini merupakan yang pertama menemukan meningkatnya risiko kanker ovarium akibat perawatan vagina yang telah dilakukan oleh jutaan wanita Amerika.

"Sementara sebagian besar dokter dan American College of Obstetricians dan Gynecologists sangat menyarankan agar wanita tidak melakukan douching, tetap saja banyak wanita yang terus melakukannya, karena menganggap douching memiliki manfaat kesehatan yang positif, seperti peningkatan kebersihan," kata Joelle Brown, seorang profesor epidemiologi di University of California, San Francisco.

Kanker ovarium dikenal sebagai "silent killer", karena wanita sering tidak mengalami gejala hingga penyakit itu berkembang ke stadium lanjut.

Diperkirakan 20.000 wanita Amerika yang didiagnosis dengan kanker ovarium dan sekitar 14.500 meninggal setiap tahun, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Analisis baru dalam jurnal Epidemiology melibatkan lebih dari 41.000 wanita di seluruh AS dan Puerto Rico sejak tahun 2003. Peserta berusia 35 sampai 74 tahun.

Pada bulan Juli 2014, peneliti menghitung 154 kasus kanker ovarium di antara peserta. Perempuan yang melaporkan douching ditemukan hampir dua kali lipat memiliki risiko kanker ovarium.

Vagina secara alami dapat membersihkan diri. Menyemprotkan pembersih atau campuran lainnya dalam leher vagina hanya mengganggu keseimbangan kelembaban.

Douching dapat menyebabkan pertumbuhan berlebih dari bakteri berbahaya, menyebabkan infeksi ragi, dan mendorong bakteri ke dalam rahim, saluran tuba dan ovarium, menurut Women's Health at the U.S. Department of Health and Human Services (HHS).

Namun demikian, seperempat dari perempuan, antara usia 15 dan 44 tetap melakukan douching, HHS mengatakan.

Peneliti menilai, kebanyakan wanita belajar melakukan douching dari ibu mereka. Mereka melakukannya karena mereka melihat hal itu sebagai bagian penting dari kebersihan yang baik, untuk membersihkan vagina sebelum dan setelah seks.

Padahal, produk douching merupakan kosmetik, yang berarti bahwa AS Food and Drug Administration tidak mengharuskan produsen douche menguji produk mereka untuk keselamatan.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Reuters

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.