Kompas.com - 08/09/2016, 14:00 WIB
Ilustrasi TOTO SIHONOIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS — Meski rata-rata dalam satu jam satu orang bunuh diri di Indonesia, bunuh diri belum dianggap masalah serius. Sebagian besar di antara mereka penduduk usia produktif, 15-29 tahun. Jika tak segera ditangani, bunuh diri akan jadi masalah besar seiring melonjaknya penduduk usia produktif dan ketatnya persaingan hidup.

”Bunuh diri belum dianggap sebagai kegawatan medis dan kesehatan mental serius,” kata Perwakilan Indonesia untuk Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Internasional (IASP), yang juga psikiater di Rumah Sakit Umum Daerah dr Soetomo-Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Nalini Muhdi, saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (7/9).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 menyebut prevalensi bunuh diri di Indonesia mencapai 3,7 per 100.000 penduduk. Dibandingkan negara-negara Asia lain, prevalensi itu lebih rendah. Namun dengan 258 juta penduduk, berarti ada 10.000 bunuh diri di Indonesia tiap tahun atau satu orang per jam.

Di dunia, 800.000 orang bunuh diri tiap tahun. Prevalensi bunuh diri tertinggi ada di Korea Selatan, Sri Lanka, Jepang, India, Guyana, Suriname, dan negara- negara bekas Uni Soviet.

Namun, Nalini mengingatkan, angka itu hanya puncak gunung es fenomena bunuh diri. Jumlah tak tercatat mencoba bunuh diri tetapi gagal dan yang berpikiran bunuh diri jauh lebih besar.

Pendataan bunuh diri pun sulit karena sebagian kasus dikelompokkan sebagai kecelakaan lalu lintas. Hal itu misalnya, kasus kecelakaan mobil menabrak pohon atau tersambar kereta api bisa murni kecelakaan ataupun sengaja menabrakkan diri.

Meski tak ada data pasti, bunuh diri mudah ditemukan. Maret-Agustus 2016 di Jakarta, ada beberapa kasus bunuh diri. Caranya biasanya gantung diri dan menjatuhkan diri dari gedung bertingkat atau jembatan layang. Pemicunya antara lain sakit kronik, lupa ingatan, terjerat utang, dan putus hubungan asmara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kompleks

Secara umum, bunuh diri lebih banyak dilakukan pria, tak mengenal kelas ekonomi, pekerjaan, tingkat kecerdasan, ataupun kelompok umur. Bunuh diri bisa dilakukan anak, remaja, dewasa muda, dan lanjut usia.

Setiap kasus bunuh diri bersifat unik. Penyebabnya tak diketahui pasti, tetapi biasanya gabungan berbagai faktor risiko kompleks. ”Bunuh diri tidak bisa disederhanakan menjadi soal keimanan atau pola asuh saja,” kata Benny Prawira, Koordinator Into The Light, komunitas pencegahan bunuh diri, di Jakarta.

Faktor risiko yang memicu bunuh diri bisa berasal dari faktor biologis, psikologis, dan sosial.

Dari faktor biologis, bunuh diri bisa dipicu soal genetika, gangguan keseimbangan neurotransmiter di otak yang membuat rentan depresi, ataupun efek samping obat tertentu. ”Seseorang yang punya riwayat keluarga pernah bunuh diri berisiko lebih besar bunuh diri,” kata Benny.

Dari aspek psikologis, bunuh diri bisa dipicu gangguan kepribadian ambang; memiliki gangguan psikotik berat, seperti skizofrenia dan bipolar; kepribadian suka menyalahkan diri. Pemicu lain adalah pemahaman diri atas penyakit kronik yang diderita.

Sementara faktor sosial pemicu bunuh diri antara lain tak punya ikatan kuat keluarga atau teman dan akses ke layanan kesehatan jiwa terbatas. Faktor lain ialah sistem lingkungan tak mendukung, seperti tak ada pagar di jalan layang yang memungkinkan seseorang melompat bunuh diri.

Meski demikian, bunuh diri bisa ditekan karena faktor pelindung, seperti tak kecanduan alkohol, tak memakai obat terlarang, dan agama, sehingga otak melepas lebih banyak hormon kebahagiaan. Semua pihak perlu mengambil upaya penyelamatan agar bunuh diri tak terus bertambah. (WAD/MZW)

 

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 September 2016, di halaman 1 dengan judul "Setiap Jam, Satu Orang Bunuh Diri".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Rekomendasi untuk anda
PENYAKIT
Lemah Jantung
Lemah Jantung
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lemah Jantung

Lemah Jantung

Penyakit
Mengenal Gejala Kanker Paru-paru Stadium 2

Mengenal Gejala Kanker Paru-paru Stadium 2

Health
Agranulositosis

Agranulositosis

Penyakit
8 Gejala Prostatitis yang Pantang Disepelekan

8 Gejala Prostatitis yang Pantang Disepelekan

Health
Edema Paru

Edema Paru

Penyakit
7 Makanan yang Pantang Dikonsumsi Ibu Hamil

7 Makanan yang Pantang Dikonsumsi Ibu Hamil

Health
Balanitis

Balanitis

Penyakit
6 Penyebab Hidung Sakit seperti Kemasukan Air

6 Penyebab Hidung Sakit seperti Kemasukan Air

Health
9 Jenis Makanan Sehat yang Direkomendasikan untuk Ibu Hamil

9 Jenis Makanan Sehat yang Direkomendasikan untuk Ibu Hamil

Health
Gangrene

Gangrene

Penyakit
7 Penyebab Kontraksi Palsu, Ibu Hamil Perlu Tahu

7 Penyebab Kontraksi Palsu, Ibu Hamil Perlu Tahu

Health
Gangguan Menstruasi

Gangguan Menstruasi

Penyakit
Kenali Apa itu Prostatitis, Penyakit Prostat yang Rawan Menyerang Pria

Kenali Apa itu Prostatitis, Penyakit Prostat yang Rawan Menyerang Pria

Health
Klaustrofobia

Klaustrofobia

Penyakit
Apakah Penyakit Tipes Bisa Menyebabkan Kematian?

Apakah Penyakit Tipes Bisa Menyebabkan Kematian?

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.