Kenali Gejala Alergi Madu dan Cara Mengatasinya

Kompas.com - 15/07/2020, 12:00 WIB
Ilustrasi madu businessweek.comIlustrasi madu

KOMPAS.com - Madu adalah pemanis alami yang terbuat dari nektar tanaman berbunga.

Seperti dilansir dari Healthline, madu mengandung asam amino, vitamin, dan antioksidan yang baik bagi tubuh.

Nutrisi dalam madu tersebut membuat bahan alami ini kerap digunakan sebagai pemanis sekaligus obat beberapa penyakit.

Baca juga: Bolehkah Minum Obat Setelah Minum Madu?

Kendati bisa bermanfaat bagi tubuh, namun sebagian orang juga bisa mengalami alergi madu.

Alergi ini bisa muncul apabila madu yang diproduksi terkontaminasi serbuk sari dari tanaman lain, seperti tulip, bunga matahari, kayu putih, dll.

Jika punya riwayat alergi serbuk sari, besar kemungkinan seseorang juga alergi sejumlah madu.

Gejala alergi madu

Madu umumnya memiliki sifat antiperadangan dan antioksidan alami.

Namun, serbuk sari dan zat pemicu alergi dari tanaman lainnya bisa mencemari madu.

Itu sebabnya, gejala alergi madu bisa menyerupai alergi polen atau serbuk sari. Beberapa di antaranya:

  • Pilek
  • Bersin
  • Badan bengkak
  • Mata berair
  • Tenggorokan gatal
  • Ruam
  • Gatal-gatal
  • Timbul benjolan di kulit

Baca juga: Alergi Udang: Ciri-ciri dan Cara Mengatasi

Gejala alergi madu tersebut dapat bervariasi, tergantung tingkat keparahan alergi dan kondisi tubuh.

Reaksi alergi ini bisa muncul saat seseorang makan madu atau kulitnya terkena madu.

Dalam kasus yang lebih parah, gejala alergi madu bisa sampai:

  • Sakit kepala
  • Mengi
  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Pingsan
  • Detak jantung tidak teratur
  • Anafilaksis

Jika Anda mengalami gejala alergi setelah mengonsumsi madu, segera konsultasi ke dokter.

Umumnya, alergi madu pada orang dewasa tidak menyebabkan komplikasi serius.

Baca juga: Kenapa Bayi di Bawah 1 Tahun Tak Boleh Diberi Madu?

Bahaya madu untuk bayi di bawah 1 tahun

Ilustrasi maduALLEKO Ilustrasi madu
Kendati relatif aman apabila dikonsumsi orang tanpa riwayat alergi, namun madu tidak direkomendasikan bagi bayi di bawah usia 1 tahun atau 12 bulan.

Madu berpotensi membawa bakteri Clostridium botulinum.

Bakteri ini tidak berbahaya bagi anak-anak di atas 1 tahun dan orang dewasa karena sistem kekebalan dan pencernaan mereka telah matang.

Jika bayi di bawah usia 1 tahun menelan bakteri Clostridium, bakteri dapat berkembang biak di usus dan mempengaruhi sistem saraf mereka.

Kondisi ini dikenal sebagai botulisme pada bayi. Meskipun jarang, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa.

Baca juga: Ibu Menyusui Minum Kopi, Apakah Berpengaruh pada Bayi?

Beberapa gejala botulisme pada bayi termasuk lemah otot dan masalah pernapasan.
Selain itu, infeksi bakteri yang bisa berdampak fatal ini juga menimbulkan gejala:

  • Sembelit
  • Tangisan jadi lemah
  • Bayi lemas
  • Susah menelan minuman atau makanan

Botulisme pada bayi bisa diobati, asalkan bayi cepat mendapatkan pertolongan medis.

Jika bayi tak sengaja menelan madu dan menunjukkan gejala botulisme, segera bawa ke rumah sakit.

Cara mengobati alergi madu

Secara umum, alergi madu dapat diobati dengan pereda atau obat antialergi.

Dokter biasanya memberikan obat jenis antihistamin untuk meredakan gejala alergi.

Apabila gejala alergi semakin memburuk setelah satu jam, segera dapatkan bantuan medis.

 


Sumber Healthline
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X