Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 30/11/2020, 17:01 WIB
Mahardini Nur Afifah

Penulis

Karena panas yang dihasilkan tubuh cukup banyak, menggigil juga butuh energi yang besar.

Sehingga, menggigil ketika kedinginan hanya bisa beberapa beberapa jam saja sampai otot kehabisan bahan bakar berupa glukosa.

Baca juga: 6 Minuman Hangat dan Sehat, Cocok untuk Musim Hujan

Respons menggigil ketika kedinginan bisa berbeda-beda

Setiap orang memiliki respons menggigil yang berbeda-beda saat menghadapi dingin.

Anak-anak yang tubuhnya tidak memiliki banyak lemak cenderung lebih mudah menggigil ketika kedinginan.

Sebaliknya, orang dewasa dengan banyak lemak cenderung lebih tahan menggigil saat kedinginan.

Jika pernah mengamati, bayi umumnya tidak menggigil saat kedinginan.

Pengecualian ini berlaku pada bayi karena mereka memiliki respons pengaturan suhu berbeda jika dibandingkan anak-anak dan orang dewasa.

Bayi masih bisa menghangatkan tubuhnya dengan cara membakar lemak lewat proses thermogenesis. Proses ini mirip dengan cara hewan yang hibernasi saat bertahan hidup di suhu sangat dingin.

Kepekaan seseorang pada suhu dingin juga bisa berubah seiring bertambahnya usia, atau masalah kesehatan seperti gangguan kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroid).

Orang tua jadi lebih sensitif pada suhu dingin lantaran penipisan lapisan lemak di bawah kulit dan menurunnya sirkulasi darah karena faktor penuaan.

Baca juga: Musim Hujan, Lebih Asyik Makan Durian yang Bikin Tubuh Hangat

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com