Kompas.com - 10/07/2021, 10:32 WIB
Ilustrasi oximeter, pengukur saturasi oksigen. Shutterstock/Anya IvanovaIlustrasi oximeter, pengukur saturasi oksigen.

KOMPAS.com - Setiap sistem dan organ dalam tubuh membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup.

Tanpa oksigen, sel-sel mulai tidak berfungsi dan akhirnya mati.

Kematian sel dapat menyebabkan gejala yang parah dan akhirnya menyebabkan kegagalan organ.

Tubuh mengangkut oksigen ke organ-organ dengan menyaringnya melalui paru-paru.

Paru-paru kemudian mendistribusikan oksigen ke dalam darah melalui protein hemoglobin dalam sel darah merah.

Baca juga: Mitos atau Fakta, Vaksin Covid-19 Bisa Ganggu Siklus Menstruasi?

Sejumlah 60% keuntungan dari artikel Health Kompas.com disalurkan untuk warga terdampak Covid-19.

#JernihkanHarapan dengan membagikan artikel-artikel Health Kompas.com yang bermanfaat di media sosial agar lebih banyak warga terbantu. — Bagikan artikel ini

Cara Mengukur Kadar Oksigen Darah dengan Oksimeter
Panduan cara mengukur kadar oksigen dalam darah dengan oksimeter.
Bagikan artikel ini melalui

Protein ini menyediakan oksigen ke seluruh tubuh.

Oksimetri nadi mengukur persentase oksigen dalam protein hemoglobin, yang disebut saturasi oksigen.

Saturasi oksigen biasanya menunjukkan berapa banyak oksigen yang masuk ke organ.

Tingkat saturasi oksigen normal adalah antara 95 dan 100 persen.

Melansir dari artikel berjudul “Pulse oximetry: what the nurse needs to know”, tingkat saturasi oksigen di bawah 90 persen dianggap sangat rendah dan dapat menyebabkan keadaan darurat klinis.

Dalam mengukur saturasi oksigen, digunakan alat yang disebut oksimeter atau oksimeter nadi.

Alat ini merupakan perangkat clip-on yang digunakan untuk mengukur saturasi oksigen dengan cara dipasang ke jari, pergelangan tangan, kaki, atau area lain yang dapat membaca aliran darah.

Merangkum dari Healthline dan Medical News Today, alat ini dapat digunakan untuk memantau kesehatan individu dengan jenis kondisi apa pun yang dapat memengaruhi kadar oksigen darah. Beberapa kondisi tersebut antara lain sebagai berikut.

  • penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
  • asma
  • radang paru-paru
  • kanker paru-paru
  • anemia
  • serangan jantung atau gagal jantung
  • kelainan jantung bawaan
  • pneumonia
  • reaksi alergi

Baca juga: Sering Terjadi saat Covid-19, Apa Bahaya Saturasi Oksigen Rendah?

Selama pembacaan oksimetri nadi, oksimeter ditempatkan pada jari tangan, daun telinga, atau jari kaki.

Sinar kecil cahaya melewati darah di jari, mengukur jumlah oksigen.

Ini dilakukan dengan mengukur perubahan penyerapan cahaya dalam darah teroksigenasi atau terdeoksigenasi.

Oksimeter pulsa dengan demikian akan dapat memberi tahu tingkat saturasi oksigen berbeserta detak jantung.

Cara menggunakan oksimetri

Oksimetri nadi dapat digunakan baik di rawat inap maupun rawat jalan.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin menyarankan memiliki oksimeter untuk digunakan di rumah.

Cara menggunakan oksimeter ini pun cukup mudah yang disarankan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), berikut langkah-langkahnya.

  • Cuci tangan sebelum menggunakan oksimeter
  • Kuku harus dalam kondisi bersih, tidak panjang dan tidak terdapat cat kuku
  • Nyalakan oksimeter.
  • Jepit di ujung jari, dengan kuku menghadap ke atas dan lihat hasilnya dalam beberapa detik.

Baca juga: Perbedaan Gejala Covid-19 Ringan, Sedang, dan Berat

Cara membaca kadar oksigen di oksimetri

Oksimetri nadi biasanya merupakan tes yang cukup akurat dengan tingkat kegagalan sebanyak 2 persen.

Misalnya, jika pembacaan oksimetri 82 persen, bisa jadi tingkat saturasi oksigen yang sebenarnya 80 hingga 84.

Namun, faktor-faktor seperti gerakan, suhu, atau cat kuku dapat memengaruhi akurasi.

Biasanya, lebih dari 89 persen darah harus membawa oksigen.

Ini adalah tingkat saturasi oksigen yang dibutuhkan untuk menjaga sel-sel tetap sehat.

Meskipun memiliki saturasi oksigen di bawah ini untuk waktu sebentar tidak diyakini menyebabkan kerusakan, tetapi kondisi ini akan membahayakan jika penurunan tingkat saturasi oksigen terjadi secara berulang.

Tingkat saturasi oksigen 95 persen dianggap normal bagi sebagian besar individu sehat.

Tingkat 92 persen menunjukkan potensi hipoksemia, yakni kekurangan oksigen yang mencapai jaringan dalam tubuh.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

3 Perubahan Pada Kuku yang Menandakan Anda Pernah Terpapar Covid-19

3 Perubahan Pada Kuku yang Menandakan Anda Pernah Terpapar Covid-19

Health
Pandangan Kabur

Pandangan Kabur

Penyakit
Mata Berair

Mata Berair

Penyakit
Ahli Gizi: Harus Bijak Konsumsi Susu Kental Manis

Ahli Gizi: Harus Bijak Konsumsi Susu Kental Manis

Health
Nyeri Kaki dan Tangan

Nyeri Kaki dan Tangan

Penyakit
Alasan Gula Tak Memiliki Persentase AKG dalam Makanan Kemasan

Alasan Gula Tak Memiliki Persentase AKG dalam Makanan Kemasan

Health
Osteofit

Osteofit

Penyakit
3 Bahaya Konsumsi Susu Kental Manis Berlebihan untuk Kesehatan

3 Bahaya Konsumsi Susu Kental Manis Berlebihan untuk Kesehatan

Health
Hifema

Hifema

Penyakit
13 Tahap Perkembangan Janin pada Trimester Ketiga

13 Tahap Perkembangan Janin pada Trimester Ketiga

Health
Gigi Berlubang

Gigi Berlubang

Penyakit
Berapa Lama Waktu Tidur Siang yang Baik?

Berapa Lama Waktu Tidur Siang yang Baik?

Health
Pentingnya Alat Kontrasepsi untuk Cegah Kehamilan! Yuk, Ketahui Jenis-jenisnya

Pentingnya Alat Kontrasepsi untuk Cegah Kehamilan! Yuk, Ketahui Jenis-jenisnya

BrandzView
Batu Amandel

Batu Amandel

Penyakit
Alami Gatal setelah Mandi? Kenali 4 Penyebabnya

Alami Gatal setelah Mandi? Kenali 4 Penyebabnya

Health
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.