Dikdik Kodarusman
Dokter RSUD Majalengka

Dokter, peminat kajian autofagi. Saat ini bekerja di RSUD Majalengka, Jawa Barat

Hubungan Stres, Hipertensi, dan Kadar Gula Darah

Kompas.com - 30/07/2022, 06:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KEBANYAKAN tenaga kesehatan mengakui hubungan yang erat antara stres dan hipertensi. Namun saat dikatakan stres dan hipertensi juga berhubungan dengan kadar gula darah, kebanyakan membantah.

Sebetulnya hubungan gula dengan stres dan hipertensi sangat erat. Sehingga, untuk penanggulangan keluhan stres dan hipertensi juga harus disertai pengendalian asupan gula.

Gula atau lebih tepatnya glukosa darah, memengaruhi kedua keluhan tersebut secara langsung dan tidak langsung. Peningkatan glukosa darah mengakibatkan stres dan kenaikan tekanan darah. Lalu kenaikan tekanan darah mengakibatkan stres. Atau stres mengakibatkan kenaikan tekanan darah. Seperti lingkaran memang. Untuk memutusnya  kendalikan asupan gula.

Baca juga: Apakah Minum Kopi Bisa Menyebabkan Darah Tinggi atau Hipertensi?

 

Sel saraf gunakan glukasa secara langsung

Hubungan ketiga hal tersebut dapat dijelaskan seperti ini. Sel saraf adalah satu-satunya sel yang dapat menggunakan glukosa secara langsung, tanpa harus menunggu pelepasan insulin. Sangat berbeda dengan sel lainnya yang membutuhkan insulin dalam asupannya. Karena tanpa insulin, kenaikan atau penurunan kadar glukosa darah akan berefek langsung pada sel saraf.

Salah satu yang paling dipengaruhi adalah asetil kolin. Asetil kolin merupakan neurotransmitter utama yang berperan penting dalam proses berpikir. Meski kerja asetil kolin ini sangat singkat. Namun sintesanya membutuhkan banyak piruvat yang berasal dari gula. Begitu juga dalam proses eksitasi atau pelepasannya membutuhkan banyak energi. Sehingga bisa dikatakan sel saraf adalah sel yang paling rakus menggunakan energi. Energi ini berasal dari pemecahan gula.

Pada saat terjadinya stres itu artinya terjadi pelepasan asetil kolin yang banyak dan sporadis. Hal ini dimungkinkan dengan adanya ketersediaan gula. Sehingga pada seseorang dengan tingkat kerentanan stres yang tinggi akan terjadi konsumsi glukosa yang tinggi juga. Aktivitas asetil kolin yang tinggi, terutama di hipotalamus, dapat memengaruhi pelepasan berbagai neurotransmiter lain di kelenjar hipofise.

Beberapa neurotransmitter ini dapat meningkatkan tekanan darah. Vasopresin, epinefrin, norepinefrin adalah beberapa neurotransmitter yang berefek meningkatkan tekanan darah. Selain meningkatkan tekanan darah juga berefek lain terutama berkaitan mood atau suasana perasaan seseorang.

Epinefrin dan norepinefrin diketahui memengaruhi fungsi pankreas. Pada pankreas kedua hormon tersebut merangsang pelepasan glukagon. Glukagon akan memicu terjadinya glukoneogenesis di jaringan lemak dan liver. Akibat glukoneogenesis ini terjadi peningkatan kadar glukosa darah kembali. Akibatnya aktivitas sintesa dan pelepasan asetil kolin meningkat lagi. Stres lagi!

Untuk kendalikan stres dan hipertensi harus kendalikan asupan glukosa

Jadi, untuk mengendalikan stres dan hipertensi harus disertai pengendalian asupan glukosa. Peningkatan kadar glukosa darah juga dapat dihindari dengan meningkatkan aktivitas fisik. Cara ini akan mengakibatkan cadangan glukosa tidak hanya digunakan oleh sel saraf juga oleh sel tubuh. Cara ini juga memiliki manfaat lain karena akan meningkatkan kadar AMP dan AMP kinase.

Baca juga: Hipertensi, Haruskan Pantang Garam?

Peningkatan dua zat ini merupakan hasil akhir dari proses oksidasi. Peningkatan kedua zat ini akan memicu proses autofagi. Yang paling unik dari autofagi melalui jalur aktivitas fisik adalah replikasi mitokondria. AMP dan AMP kinase menumpuk di mitokondria. Ini memicu lisosom untuk melakukan autofagi. Selanjutnya akan dibentuk mitokondria baru yang lebih muda. Mitokondria ini masih memiliki kemampuan replikasi. Sehingga kerapatan mitokondria akan bertambah. Kerapatan mitokondria yang tinggi akan meningkatkan ketersediaan energi yang tinggi pula.

Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa untuk mencegah stres dan hipertensi harus dilakukan pembatasan asupan gula, juga olah raga aerobik secara teratur. Jadi, bukan tidak ada hubungan gula dengan stres dan hipertensi. Salam, semoga menjadi inspirasi hidup sehat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.