Sunardi Siswodiharjo
Food Engineer dan Praktisi Kebugaran

Food engineer; R&D manager–multinational food corporation (2009 – 2019); Pemerhati masalah nutrisi dan kesehatan.

Susu Formula, Dimusuhi tetapi Terus Dibeli

Kompas.com - 10/09/2022, 10:46 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

HARI ASI (Air Susu Ibu) Sedunia, tepatnya Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) yang diperingati setiap 1 - 7 Agustus mengingatkan kembali pentingnya menyusui untuk bayi.

Menyusui selalu dikaitkan dengan upaya pencegahan kekurangan gizi (malnutrisi) pada bayi dan anak, termasuk stunting yang menjadi ancaman generasi masa depan Indonesia.

Stunting merupakan kondisi ketika anak balita (bawah lima tahun) memiliki tinggi badan di bawah rata-rata akibat masalah gizi kronis yang disebabkan asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, terjadi mulai dari dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun atau periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

Baca juga: Nutrisi ASI Penting untuk Perkembangan Otak Bayi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali merilis berita yang mengungkapkan jangkauan yang mencengangkan dari pemasaran susu formula yang eksploitatif bertajuk “WHO Reveals Shocking Extent of Exploitative Formula Milk Marketing”. Informasi tersebut dipublikasikan pada awal kuartal kedua tahun 2022 di situs resmi WHO.

Berita itu merupakan pemutakhiran dari laporan WHO sebelumnya yang intinya mengajak kita menjauhkan bayi kita dari pemasaran agresif susu formula karena membahayakan kesehatan bayi secara global.

Namun kini seolah menjadi sebuah peristiwa paradoksal, ketika susu formula yang sekalipun telah dikecam banyak pihak, mulai dari WHO hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal penggiat ASI, tetapi faktanya masyarakat terus saja membelinya.

Benarkah hal ini disebabkan oleh pemasaran yang eksploitatif dan agresif semata? Mari kita lihat permasalahan tersebut dengan sudut pandang yang lebih beragam disertai data empiris yang ada.

Angka penjualan susu formula terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Seolah kecaman-kecaman tersebut di atas tidak mampu memberikan pengaruh yang bermakna terhadap perubahan sikap masyarakat secara umum.

Kenyataan lainnya, di tengah sejumlah kecaman tersebut, menurut WHO, industri susu formula secara global merupakan bisnis dengan nilai fantastis, yaitu sebesar 55 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 795 triliun (nilai kurs Rp 14.464 per dolar AS).

Akar persoalan

Harus diakui bahwa literasi gizi masyarakat kita sebagian besar masih rendah. Hal ini menjadi salah satu sebab utama masih tingginya konsumsi susu formula.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.