Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Noerolandra Dwi S
Surveior FKTP Kemenkes

Menyelesaikan pascasarjana FKM Unair program studi magister manajemen pelayanan kesehatan. Pernah menjadi ASN di Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban bidang pengendalian dan pencegahan penyakit. Sekarang menjadi dosen di Stikes NU di Tuban, dan menjalani peran sebagai surveior FKTP Kemenkes

Membeludaknya Pasien Rumah Sakit

Kompas.com - 11/07/2024, 07:34 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DATA BPS menunjukkan, sebanyak 26,27 persen penduduk Indonesia mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir pada 2023. Angka tersebut turun 6,09 persen dalam lima tahun terakhir.

Terdapat lima propinsi dengan tingkat persentase keluhan tertinggi pada rentang angka di atas 30 persen, yaitu Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Tengah.

Keluhan kesehatan merupakan gangguan terhadap kondisi fisik, jiwa, termasuk karena kecelakaan, atau hal lain yang menyebabkan terganggunya kegiatan sehari-hari.

Keluhan utama yang banyak dialami penduduk Indonesia adalah panas, sakit kepala, batuk, pilek, diare, asma, sesak nafas, dan sakit gigi. Penderita penyakit kronis selamanya dianggap mempunyai keluhan, walaupun penyakitnya tidak kambuh karena perawatan dan pengobatan.

Dari seluruh penduduk dengan keluhan sakit, sekitar 25,16 persen melakukan pengobatan rawat jalan di fasyankes. Angka rawat jalan ini menurun 15,32 persen dibandingkan data tahun 2019.

Berdasarkan jenis fasilitas layanan pengobatan, fasyankes klinik dan praktik dokter paling banyak dikunjungi penduduk Indonesia yang sakit. Selanjutnya Puskesmas peringkat ketiga, dan terakhir baru pasien ke rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta.

Tidak sampai 6 persen penduduk yang mempunyai keluhan datang ke rumah sakit terdekat. Namun, mengapa pemandangan kunjungan pasien rumah sakit yang membeludak selalu terlihat sehari-hari?

Apakah temuan data statistik morbiditas dapat meleset dari kenyataan? Atau memang kita masih kekurangan fasyankes rujukan rumah sakit?

Dapat dilihat di ruang tunggu rawat jalan rumah sakit tiap hari penuh dengan pasien yang mengantre dan menunggu panggilan pelayanan.

Bahkan terjadi di berbagai rumah sakit pemerintah (RSUP, RSUD), keluarga pasien mengantre pendaftaran sejak dini hari untuk mendapat nomor pelayanan. Sistem online sesungguhnya memudahkan, walaupun tidak semua bisa mengakses.

Persentase terbesar pasien di rumah sakit adalah lansia, walaupun ada juga pasien di usia masa produktif, muda, maupun anak-anak.

Keluhan penyakit kronis, komplikatif, degeneratif, keganasan, dan kecelakaan mendominasi. Gampang ditebak banyak penderita berusia dewasa dan di atas 60 tahun yang berkunjung.

Akibat membeludaknya pasien rumah sakit, maka keluhan lamanya menunggu dan lambat pelayanan kerapkali terdengar.

Hal ini dapat memengaruhi mutu layanan dan menurunkan kenyamanan rumah sakit dalam pelayanan. Pelayanan yang terjadi sebentar saja, sekitar 15 – 20 menit dalam ruang/poli pelayanan rawat jalan.

Fenomena membeludaknya pasien tak dapat dihindari karena faktor (salah satu faktor) kehadiran tenaga medis yang tidak selalu tersedia sesuai jadwal yang ditetapkan.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Selamat, Kamu Pembaca Terpilih!
Nikmati gratis akses Kompas.com+ selama 3 hari.

Mengapa bergabung dengan membership Kompas.com+?

  • Baca semua berita tanpa iklan
  • Baca artikel tanpa pindah halaman
  • Akses lebih cepat
  • Akses membership dari berbagai platform
Pilihan Tepat!
Kami siap antarkan berita premium, teraktual tanpa iklan.
Masuk untuk aktivasi
atau
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau