Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Merasa Tertekan Saat Lebaran? Psikolog IPB Beri Solusinya

Kompas.com - 01/04/2025, 12:00 WIB
Khairina

Editor

KOMPAS.comLebaran identik dengan suasana kebersamaan dan silaturahmi. Namun, di balik momen yang penuh kehangatan itu, tidak sedikit orang yang justru merasa lelah, tertekan, bahkan stres—baik secara fisik maupun emosional.

Psikolog dan dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Nur Islamiah, MPsi, PhD, atau yang akrab disapa Bu Mia, mengatakan bahwa tekanan selama Lebaran bisa muncul dari berbagai sumber. Mulai dari perubahan rutinitas, ekspektasi sosial dan budaya, hingga interaksi intens tanpa jeda, seperti menerima tamu terus-menerus atau memenuhi undangan keluarga.

“Saat Lebaran, kita sering merasa harus terus tersenyum, melayani tamu, dan menjaga suasana. Padahal, kita tidak punya kewajiban untuk menyenangkan semua orang,” ujar Mia, seperti ditulis laman IPB University, Sabtu (30/3/2025).

Baca juga: Tips Pola Makan Sehat saat Lebaran agar Tubuh Tetap Bugar

Ia menekankan pentingnya menetapkan batas psikologis atau psychological boundaries agar kesehatan mental tetap terjaga.

Mengenali batas diri

Salah satu strategi yang disarankan Mia adalah mengenali dan menghormati batas diri sendiri. Misalnya, memilih topik pembicaraan yang nyaman atau menarik diri sejenak dari keramaian tanpa merasa bersalah.

“Menetapkan batas waktu dan energi untuk bersosialisasi bukan berarti tidak menghargai orang lain, tapi justru bentuk merawat diri agar tetap sehat secara emosional,” katanya.

Baca juga: Makanan Bersantan Saat Lebaran Picu Kolesterol dan Diare, Ini Anjuran Dokter

Menurut Mia, memberi ruang untuk diri sendiri bukan berarti menjauh dari orang lain, melainkan cara untuk menjaga kapasitas emosional. Tanpa ruang tersebut, seseorang bisa lebih mudah merasa lelah, sensitif, bahkan kosong meski sedang dikelilingi keluarga atau teman.

“Salah satu cara menjaga keseimbangan adalah dengan menyempatkan waktu untuk diri sendiri, misalnya bangun lebih pagi untuk menikmati ketenangan, atau menyendiri beberapa menit di kamar,” ujarnya.

Hadapi tekanan sosial dengan bijak

Mia juga menyoroti tekanan sosial yang kerap muncul saat Lebaran, seperti pertanyaan seputar pernikahan, pekerjaan, atau pencapaian hidup. Ia menyarankan agar pertanyaan semacam itu dijawab secara diplomatis, tanpa harus membuka semua hal secara detail.

“Cukup dengan jawaban seperti, ‘Masih dalam proses, mohon doanya ya.’ Itu sudah cukup menjaga kenyamanan kita dan orang lain,” jelasnya.

Baca juga: Cara Menanggapi Pertanyaan Sensitif Saat Lebaran Menurut Psikolog

Selain itu, Mia mengingatkan agar tidak mengabaikan perasaan lelah atau tertekan yang mungkin muncul selama Lebaran.

“Tidak apa-apa merasa lelah di tengah suasana yang bahagia. Validasi perasaan itu penting. Ambil waktu sejenak untuk menenangkan diri, misalnya dengan berjalan-jalan sebentar, berwudu, atau beribadah dengan tenang,” katanya.

Untuk yang merayakan Lebaran seorang diri

Bagi sebagian orang, Lebaran juga bisa menjadi momen yang menyulitkan secara emosional karena dirayakan seorang diri, jauh dari keluarga.

Mia mengatakan bahwa perasaan sedih atau hampa dalam situasi tersebut adalah hal yang wajar. Ia menyarankan agar tetap menjaga koneksi emosional, meski secara fisik tidak bisa bersama orang-orang terdekat.

“Hubungi orang yang disayangi, lakukan panggilan video, meskipun hanya sebentar. Yang penting, jangan memendam semuanya sendirian,” ujarnya.

Lebaran bukan ajang lomba kebahagiaan

Sebagai penutup, Mia mengingatkan bahwa Lebaran bukanlah ajang perlombaan untuk terlihat paling bahagia atau paling sukses.

“Kita tidak harus selalu kuat, dan tidak perlu merasa harus sempurna. Memberi ruang untuk diri sendiri justru merupakan bentuk kekuatan emosional yang sehat dan matang,” tutupnya.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Komentar
kata said aqil siradj mantan ketua pbnu = islam putus asa dan bingung, banyak yang murtad atau jadi atheis, wkwkwk wkwkwk wkwkwk

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau