Kamis, 18 Desember 2014 20:27

NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Waspadai Gangguan Enzim Pencernaan

Selasa, 6 Juli 2010 | 08:54 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:
shutterstock

Kompas.com - Banyak ahli kesehatan berpendapat, hidup sehat dimulai dari pencernaan yang baik. Maklum, pencernaan yang sehat mampu menyerap nutrisi dari setiap makanan secara maksimal. Pencernaan yang sehat juga dapat menetralisir racun, serta melawan bakteri dan virus yang membahayakan tubuh.

Singkatnya, pencernaan yang baik akan membuat sirkulasi darah menjadi lancar, metabolisme tubuh dan fungsi organ pun menjadi prima. Sebaliknya, gangguan sistem pencernaan akan menimbulkan gangguan pula pada sistem kerja tubuh.

Ada beberapa masalah gangguan pencernaan yang sering dikeluhkan banyak orang. Yang paling populer adalah sakit maag. Penyakit ini muncul ketika produksi asam lambung meningkat dan melukai dinding lambung.

Keluhan lain yang sering muncul adalah naiknya asam lambung sampai ke kerongkongan. Dalam dunia kedokteran, penyakit ini dikenal dengan istilah gastro esophageal reflex disease (GERD).

Tapi, gangguan pencernaan tidak melulu berhubungan dengan asam lambung. Masalah juga bisa terjadi di seputar enzim pencernaan.

"Gangguan pencernaan karena enzim sering dipicu kurangnya pasokan enzim pencernaan dalam saluran pencernaan," kata Suhanto Kasmali, dokter umum dan Kepala Bidang Pelayanan Medik Rumah Sakit Mediros, Jakarta Timur.

Biasanya, gangguan enzim pencernaan ini datang setelah makan. Gejalanya, perut terasa kembung. Rasa kembung tersebut muncul karena terdapat gas berlebihan dalam lambung. Alhasil, orang yang mengalami gangguan produksi enzim ini kerap bersendawa atau buang angin.

Karena kesibukan Gangguan enzim biasanya muncul karena pola makan yang tidak sehat. Umumnya, gangguan ini menyerang orang yang memiliki banyak kesibukan. Maklum, kesibukan kadang membuat kita lalai untuk menelan asupan makanan yang sehat.

Misalnya, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang kalorinya kosong, kurang menelan makanan yang cukup gizi, atau bahkan tidak cukup mengonsumsi makanan. "Akhirnya makanan yang harus dicerna tidak seimbang dengan jumlah enzim," kata Dwi L Riyantoro, Over The Counter (OTC) Division Head PT Darya-Varia Laboratoria.

Selain karena pola makan yang tidak sehat, faktor usia juga ikut mempengaruhi produksi enzim. Semakin bertambah usia seseorang, semakin sedikit enzim yang diproduksi dalam tubuh.

Ada tiga enzim yang berfungsi mengolah makanan. Pertama, enzim lipase yang berfungsi merombak lemak. Kedua, enzim protease yang bertugas memecah protein. Ketiga, enzim amylase yang bekerja merombak hidrat arang.

Ketiga enzim ini bekerja sama mengolah makanan yang masuk ke perut. Tanpa enzim yang cukup, makanan tak dapat diserap usus karena tidak tercerna sempurna. Jadinya, sebagian makanan yang masuk akan terbuang percuma. Alhasil, tubuh akan kekurangan gizi meski penderitanya sudah banyak menyantap makanan. Daya tahan tubuh juga menjadi lemah, sehingga gampang terseraizg penyakit.

Untuk mengatasi gangguan enzim ini, tentu Anda harus mengubah pola makan menjadi pola makan sehat. Anda juga bisa mengonsumsi produk enzim pencernaan yang umumnya berbentuk kapsul. Dengan mengonsumsi produk enzim, jumlah enzim dalam tubuh akan bertambah sehingga mencukupi kebutuhan pencernaan setelah makan.

Dokter Suhanto menyarankan, Anda tak peruu mengonsumsi produk enzim selama tidak ada keluhan. "Karena tubuh kita sudah memproduksi enzim tersebut," ujarnya.

Gangguan enzim sebenarnya bisa disembuhkan jika penderitanya kembali menjalani pola makan yang sehat. Dengan pola makan sehat, maka tubuh akan akan menemukan kembali keseimbangan produksi enzim.

Tapi, jika gangguan pencernaan masih menyerang, bisa jadi itu bukan karena faktor enzim belaka. Ada baiknya Anda memeriksakan diri ke dokter untuk mencari tahu penyebab masih munculnya gangguan tersebut.  (Kontan/Sanny Cicilia Simbolon )






Sumber :
KONTAN
Editor :
Lusia Kus Anna

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui