Selasa, 24 Oktober 2017

Health

Cakupan Imunisasi Perlu Diratakan

Yogyakarta, KOMPAS - Cakupan program imunisasi hepatitis perlu diratakan ke semua daerah untuk menekan angka penderita hepatitis di Indonesia. Saat ini Indonesia masuk dalam kelompok negara endemi hepatitis di dunia.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, secara nasional, cakupan imunisasi hepatitis di Indonesia mencapai 68 persen. Selain belum tinggi, cakupan imunisasi tersebut juga tak merata. Di sejumlah daerah, seperti DI Yogyakarta, cakupan imunisasi mencapai lebih dari 100 persen. Namun, di daerah lain, cakupan imunisasi masih berada di bawah angka nasional.

”Pada masa mendatang, cakupan imunisasi ini perlu diratakan karena disparitas antardaerah tinggi,” kata Endang saat berbicara dalam peringatan Hari Hepatitis Sedunia di Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta, Rabu (28/7).

Hari Hepatitis Sedunia ini baru pertama kali diperingati. Di Indonesia, peringatan bertema pencegahan hapatitis dengan imunisasi sedini mungkin kepada bayi segera setelah dilahirkan.

Berdasarkan data 2007, tingkat prevalensi atau kemungkinan terkena hipertensi secara nasional mencapai 0,6 persen. Meski begitu, tercatat ada 13 provinsi yang memiliki tingkat prevalensi di atas angka nasional, di antaranya Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur.

Penyakit hati, termasuk hepatitis, menjadi penyebab kematian nomor dua di Indonesia. Dampaknya lebih besar dibandingkan penularan virus HIV/AIDS. Meski begitu, gaung informasi mengenai pencegahan hepatitis tidak sebesar HIV/AIDS.

Menurut Endang, imunisasi merupakan upaya yang efektif mencegah hepatitis. Pemerintah telah meluncurkan program imunisasi hepatitis B secara bertahap dari 1991 hingga 1996. Selanjutnya imunisasi hepatitis B diintegrasikan ke program imunisasi rutin hingga akhirnya vaksin hepatitis B digabung dengan vaksin difteri, pertusis, tetanus (DPT). Meski begitu, cakupan imunisasi tetap tergantung kondisi demografi daerah. (ARA)

Editor :