Jumat, 31 Oktober 2014 12:29
Caring by Sharing | Kompas.com

Tenaga Kerja

Lampung Sekolahkan TKI ke Hongkong

Penulis : Yulvianus Harjono | Rabu, 22 September 2010 | 19:59 WIB
Dibaca: -
Komentar: -
|
Share:

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com- Pemerintah Provinsi Lampung meluncurkan kebijakan pemberian pelatihan calon-calon TKI di Hongkong, China. Kebijakan ini diklaim merupakan upaya mengurangi kemiskinan di daerah itu.

Tahun ini, 50 calon TKW dikirim ke Hongkong untuk belajar bekerja di sektor informal selama enam bulan. Seluruh biaya, baik pengiriman dan akomodasi, ditanggung oleh Pemprov Lampung.

"Ini merupakan salah satu program Pak Gubernur untuk mengurangi kemiskinan. Di sana, mereka akan belajar bahasa Mandarin, mengasuh bayi, merawat jompo, dan membersihkan rumah. Sehingga, usai pelatihan itu mereka bisa langsung mahir bekerja," ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Lampung Setiato, Rabu (22/9/2010).

Kebijakan melatih dan mengirim TKI ke Hongkong ini bisa pula menjadi solusi menyusul larangan pengiriman TKI informal ke Malaysia. Negara jiran selama ini merupakan daerah tujuan utama TKI asal Lampung.

"Jumlah TKI asal Lampung yang resmi tercatat mencapai 12.000 orang. Namun, kalau dilihat di bandara tiap tahun, jumlahnya lebih dari itu. Bisa 20.000-an. Datanya memang tidak klop karena cukup banyak yang bekerja ilegal," ujar dia.

Program pelatihan calon TKI ke Hongkong itu diharapkan pula bisa menjadi peredam banyaknya TKI-TKI ilegal. Namun, ia mengakui, salah satu kekurangannya adalah terbatasnya kuota. "Tahun ini mungkin hanya 50. Tahun 2011 selanjutnya ya mudah-mud ahan bisa lebih, minimal 100 orang," ujar dia.

Dengan berbekal keterampilan yang memadai dan jalur yang resmi, para TKI ini diharapkan akan lebih terlindungi kesejahteraannya. Pada akhirnya, ucao Setiato, akan turut berperan mengurangi angka kemiskinan di daerah.


Editor :
Marcus Suprihadi

IDEALKAH

BODY MASS INDEX ANDA?


Berat Badan Kg
Tinggi Badan Cm
Usia Tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Level Aktivitas
 
  *Ukuran ini tidak bisa diterapkan pada ibu hamil dan menyusui